Ziarah Sunan Gripit DPD PANI Kabupaten Purbalingga bersama Padepokan Garga astagina
Informasi Tanggal

TANGGAL HARI INI

Sabtu

Wage

Tanggal Masehi

2 Mei 2026

Tanggal Hijriyah

18 Dzulqaidah 1447 H

"Waktu adalah anugerah, gunakan dengan sebaik-baiknya"

Ziarah Sunan Gripit DPD PANI Kabupaten Purbalingga bersama Padepokan Garga astagina

Makam Sunan Gripit Banjarmangu

Warta Banjarnegara >>Ziarah Makam Wali merupakan tradisi luhur yang tidak hanya menjadi sarana mengenang kematian, tetapi juga jembatan penghubung antara masa kini dengan nilai-nilai sejarah perjuangan Islam di Nusantara. 
Salah satu destinasi spiritual yang memiliki pengaruh besar di wilayah Jawa Tengah bagian barat adalah Makam Sunan Gripit. Terletak di dataran tinggi Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, makam ini menjadi magnet bagi para pencari ketenangan batin dan pelestari adat.

Baru-baru ini, rombongan dari Sekjen PANI (Pasukan Adat Nusantara Indonesia) DPD 2 Kabupaten Purbalingga bersama pengurus Padepokan Garga Astagina melakukan kunjungan ziarah bersama. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya memperkuat tali silaturahmi antarlembaga adat dan spiritual di wilayah Barlingmascakeb. 

Sejarah Sunan Gripit dari Masa ke Masa Memahami Sunan Gripit memerlukan kacamata sejarah yang luas, karena sosok beliau tidak lepas dari dinamika penyebaran Islam pasca era Walisongo. Sosok di Balik Nama Sunan Gripit Sunan Gripit, atau yang dikenal dengan nama asli Syekh Maulana Syamsudin (dalam beberapa literatur lokal disebut juga Sunan Giri Pit), dipercaya sebagai tokoh yang membawa cahaya Islam ke wilayah pedalaman Banjarnegara. Nama "Gripit" sendiri merujuk pada lokasi beliau bermukim dan menyebarkan dakwahnya, yakni Desa Gripit. 

Tanjakan Pertama Makam Sunan Gripit



Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat adaptif terhadap budaya lokal. Pola dakwah yang cenderung merangkul, bukan memukul, sehingga masyarakat setempat yang kala itu masih memegang teguh kepercayaan lama dapat menerima ajaran Islam dengan suka rela.

Transformasi Peran dari Era Kesultanan hingga Kolonial Dalam masa hidupnya, Sunan Gripit tidak hanya berperan sebagai guru agama, tetapi juga sebagai penasihat sosial. Di era Kesultanan Mataram, wilayah Gripit menjadi titik strategis karena letaknya yang berada di jalur perlintasan antara pesisir utara dan wilayah selatan Jawa. 

Memasuki masa kolonial, area pemakaman Sunan Gripit tetap dijaga keramatnya oleh penduduk. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh spiritual beliau melampaui batas zaman. Hingga hari ini, Makam tersebut tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan, terutama pada bulan-bulan suci dalam kalender Jawa seperti Suro atau Ruwah. 

Urgensi Ziarah Bersama PANI Purbalingga dan Padepokan Garga Astagina Kunjungan yang dilakukan PANI DPD 2 Purbalingga dan Padepokan Garga Astagina bukan sekadar wisata religi biasa, melainkan sebuah misi kebudayaan. 
Menjaga Marwah Adat Nusantara Sekjen PANI DPD 2 Purbalingga menegaskan bahwa ziarah ini adalah bagian dari upaya revitalisasi nilai-nilai luhur Nusantara. Sebagai pasukan adat, PANI merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga situs-situs bersejarah seperti Makam Sunan Gripit agar tidak tergerus oleh modernisasi yang kehilangan akar budaya.

Sinergi Rohani Garga Astagina Padepokan Garga Astagina, yang dikenal fokus pada olah rasa dan pelestarian jati diri manusia, memandang sosok Sunan Gripit sebagai representasi dari keseimbangan antara "Hablum Minallah" (hubungan dengan Tuhan) dan "Hablum Minannas" (hubungan dengan manusia). 

Ziarah ini menjadi momentum bagi para pengurus padepokan untuk melakukan tadzakkur (perenungan) mengenai perjuangan para pendahulu dalam membangun peradaban yang beradab. Pengalaman Spiritual di Banjarmangu: Menembus Kabut dan Doa Perjalanan menuju Desa Gripit di Banjarmangu menyuguhkan pemandangan alam yang asri. Udara dingin pegunungan seolah menyambut para peziarah, menciptakan suasana khusyuk sebelum memasuki kompleks makam. 

Ritual dan Tata Krama Ziarah Rombongan PANI dan Garga Astagina mengawali ziarah dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Di bawah bimbingan para sesepuh, doa yang dipanjatkan bukan untuk menyembah makam, melainkan permohonan kepada Allah SWT agar meneladani kesabaran dan keteguhan hati Sunan Gripit. 

Logo Padepokan Garga Astagina



Kehadiran Sekjen PANI dalam barisan depan memberikan sinyal kuat bahwa struktur organisasi adat harus tetap bersandar pada landasan spiritual yang kokoh. Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat Lokal Selain aspek keagamaan, ziarah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok besar seperti ini juga berdampak positif pada perekonomian lokal di Banjarmangu. 
Warung-warung kecil dan pengelola parkir di sekitar situs mendapatkan manfaat dari kehadiran para tamu dari luar kota seperti Purbalingga. Ini adalah bukti nyata bahwa warisan seorang wali tetap memberikan “berkah” bagi umatnya, bahkan berabad-abad setelah beliau wafat. 

Kesimpulan: Melestarikan Estafet Nilai Ziarah ke Sunan Gripit oleh PANI DPD 2 Purbalingga dan Padepokan Garga Astagina adalah sebuah pengingat bahwa masa lalu adalah cermin bagi masa depan. Sejarah Sunan Gripit yang penuh dengan kedamaian dan kearifan lokal harus terus diceritakan kepada generasi muda. Dengan menjaga situs sejarah, kita sebenarnya sedang menjaga identitas bangsa kita sendiri.




kontributor warta banjarnegara misno

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama