![]() |
| Kearifan Lokal Mluku Menggunakan Kerbau |
Warga Karangbanjar Gunakan Pranoto Mongso sebagai Pedoman Bertani
PURBALINGGA – Tradisi Pranoto Mongso masih digunakan oleh masyarakat Desa Karangbanjar, Kadus 1 RT 02/RW 01, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, pada Senin (20/4/2026). Kearifan lokal ini dipertahankan oleh para petani sebagai pedoman menentukan musim tanam dan panen, dengan dukungan tokoh masyarakat Bambang Purnomo selaku Sekretaris PANI DPD 2 Purbalingga, yang aktif mengedukasi warga tentang pentingnya membaca tanda-tanda alam agar hasil pertanian tetap optimal.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Jawa. Di tengah perkembangan teknologi pertanian modern, tradisi ini masih dianggap relevan dan memiliki nilai kearifan yang tinggi.
![]() |
| Tandur Jalan Mundur (Warga Karangbanjar) |
Pranoto Mongso Jadi Acuan Bertani Tradisional
Bambang Purnomo menjelaskan bahwa Pranoto Mongso merupakan sistem penanggalan tradisional Jawa yang digunakan untuk membaca perubahan musim berdasarkan tanda-tanda alam.
“Pranoto Mongso bukan sekadar kalender, tetapi panduan hidup petani. Di dalamnya ada tanda-tanda alam yang bisa dibaca, seperti arah angin, curah hujan, hingga kondisi tanah,” ujarnya.
Menurutnya, sistem ini telah terbukti membantu petani dalam menentukan waktu yang tepat untuk mulai mengolah lahan, menanam, hingga memanen hasil pertanian.
Selain itu, Pranoto Mongso juga mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam, sehingga kegiatan pertanian tidak merusak lingkungan sekitar.
Penyesuaian dengan Perubahan Iklim
Namun demikian, Bambang juga mengakui bahwa perubahan iklim global membuat pola musim tidak lagi menentu seperti dahulu.
“Sekarang musim sering berubah-ubah, jadi petani harus pintar memadukan antara ilmu tradisional dan informasi modern,” tambahnya.
Para petani di Karangbanjar kini mulai mengombinasikan Pranoto Mongso dengan prakiraan cuaca dari pemerintah dan teknologi pertanian modern agar hasil panen lebih maksimal.
![]() |
| Proses pembuangan,gulma gulma Yang ada pada padi berumur 1 bulan. |
Langkah ini dinilai penting agar petani tidak mengalami kerugian akibat kesalahan waktu tanam yang disebabkan oleh perubahan cuaca ekstrem.
Peran Tokoh Masyarakat dalam Pelestarian Budaya
Sebagai Sekretaris PANI DPD 2 Purbalingga, Bambang Purnomo aktif mengajak generasi muda untuk tidak melupakan budaya lokal, termasuk dalam bidang pertanian.
Ia secara rutin mengadakan diskusi, sosialisasi, serta edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya mempertahankan tradisi Pranoto Mongso.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Pranoto Mongso adalah identitas budaya kita,” tegasnya.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa tradisi ini bukan sekadar warisan, tetapi juga solusi alami dalam menghadapi tantangan pertanian modern.
Masih Relevan di Era Modern
Meski zaman telah berubah dan teknologi semakin berkembang, Pranoto Mongso dinilai masih memiliki relevansi, terutama dalam memahami siklus alam secara alami.
Sistem ini tidak hanya membantu dalam bidang pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa yang harus dijaga dan dilestarikan.
Dengan menggabungkan ilmu tradisional dan teknologi modern, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Kesimpulan
Penggunaan Pranoto Mongso di Desa Karangbanjar menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Dengan dukungan tokoh masyarakat seperti Bambang Purnomo, kearifan ini diharapkan tetap lestari dan mampu membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


