Tradisi Parlon Banokeling di Banyumas, Ritual Adat Jatilawang yang Sarat Makna
Informasi Tanggal

TANGGAL HARI INI

Sabtu

Wage

Tanggal Masehi

2 Mei 2026

Tanggal Hijriyah

18 Dzulqaidah 1447 H

"Waktu adalah anugerah, gunakan dengan sebaik-baiknya"

Tradisi Parlon Banokeling di Banyumas, Ritual Adat Jatilawang yang Sarat Makna

Tradisi membersihkan makam
Kyai Banokeling di Pakuncen Jatilawang

Tradisi Parlon Banokeling di Jatilawang, Warisan Leluhur yang Tetap Lestari

Ruang Warta

Jejak Sejarah dan Spiritualitas Makam Banokeling

Di Desa Pakuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, terdapat sebuah situs budaya yang sarat nilai sejarah dan spiritualitas, yakni Makam Banokeling. Situs ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh leluhur, tetapi juga menjadi pusat tradisi adat yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat setempat. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Parlon Banokeling.

Banokeling diyakini sebagai tokoh penyebar ajaran spiritual dan nilai-nilai kehidupan yang memadukan unsur kejawen dan Islam. Ajarannya menekankan kesederhanaan, kebersihan hati, serta harmoni dengan alam. Hingga kini, keturunannya dan para pengikut ajaran Banokeling masih mempertahankan tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Kompleks makam ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas. Keberadaannya tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga nilai sejarah dan antropologis yang penting bagi identitas budaya Banyumasan.

Makna dan Pelaksanaan Tradisi Parlon

Apa Itu Parlon?

Parlon merupakan tradisi ziarah dan ritual adat yang dilaksanakan secara berkala oleh komunitas pengikut Banokeling. Kata “parlon” dalam konteks ini merujuk pada kegiatan sowan atau menghadap leluhur sebagai bentuk penghormatan serta permohonan doa restu.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada waktu jum'at terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan dengan penanggalan Jawa, khususnya dan bulan-bulan yang dianggap sakral. Momentum ini menjadi ajang berkumpulnya para pengikut dari berbagai daerah, bahkan dari luar Banyumas.

Memasuki area makam Kyai Banokeling

Rangkaian Prosesi

Prosesi Parlon Banokeling diawali dengan persiapan batin dan fisik. Para peserta mengenakan pakaian adat serba hitam, lengkap dengan ikat kepala dan kain batik khas Banyumasan. Busana tersebut melambangkan kesederhanaan, keteguhan, serta penghormatan kepada leluhur.

Setibanya di kompleks makam, para peserta melakukan bersih diri dan membersihkan area sekitar makam. Kegiatan ini bukan sekadar menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai upaya menyucikan hati sebelum berdoa.

Setelah itu, dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh juru kunci atau sesepuh adat. Doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, memohon keselamatan, keberkahan, serta ketenteraman hidup. Suasana hening dan sakral terasa kuat, mencerminkan kedalaman spiritual tradisi ini.

Mempersiapkan makan bersama
Setelah bersih-bersih Makam


Nilai Gotong Royong dan Kebersamaan

Selain aspek spiritual, Parlon juga menjadi ruang mempererat silaturahmi. Masyarakat bergotong royong menyiapkan hidangan sederhana yang kemudian dinikmati bersama. Kebersamaan ini memperkuat rasa persaudaraan di antara para pengikut ajaran Banokeling.

Nilai gotong royong yang tercermin dalam tradisi ini sejalan dengan karakter masyarakat Banyumas yang dikenal egaliter dan guyub. Tidak ada perbedaan status sosial dalam pelaksanaan Parlon; semua hadir sebagai bagian dari satu keluarga besar.

Identitas Budaya Banyumasan yang Bertahan

Tradisi Parlon Banokeling merupakan salah satu contoh kearifan lokal yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Di saat banyak tradisi mulai ditinggalkan, komunitas Banokeling justru konsisten menjaga warisan leluhur mereka.

Kehadiran generasi muda dalam setiap pelaksanaan Parlon menunjukkan adanya proses regenerasi budaya. Anak-anak dan remaja dilibatkan agar memahami sejarah serta makna tradisi yang mereka jalani. Dengan demikian, keberlangsungan adat tidak terputus oleh perubahan zaman.

Di sisi lain, tradisi ini juga menarik perhatian peneliti dan wisatawan budaya. Mereka datang untuk mempelajari sistem kepercayaan, struktur sosial, serta simbol-simbol ritual yang masih hidup hingga kini. Namun demikian, masyarakat tetap menjaga agar nilai sakral tidak terganggu oleh kepentingan komersial.

Harmoni antara Tradisi dan Regulasi

Sebagai situs cagar budaya, Makam Banokeling berada dalam perlindungan undang-undang. Hal ini memberikan jaminan bahwa kawasan tersebut tidak dapat dirusak atau dialihfungsikan sembarangan. Pemerintah daerah bersama masyarakat adat bekerja sama menjaga kelestarian fisik maupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kolaborasi ini menjadi contoh harmonisasi antara tradisi lokal dan kebijakan negara. Masyarakat tetap menjalankan ritual sesuai adat, sementara pemerintah memastikan perlindungan hukum dan pengelolaan yang tertib.

Spirit Kesederhanaan yang Menginspirasi

Salah satu pesan kuat dari Tradisi Parlon Banokeling adalah pentingnya hidup sederhana dan selaras dengan alam. Dalam ajaran Banokeling, manusia diingatkan untuk tidak berlebihan, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta menghormati leluhur.

Nilai-nilai tersebut terasa relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif. Parlon menjadi momen refleksi, mengajak setiap individu untuk kembali pada akar budaya dan jati diri.

Bagi masyarakat Jatilawang, tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian dari identitas kolektif. Ia menjadi penanda bahwa di tengah perkembangan zaman, masih ada ruang bagi kearifan lokal untuk tumbuh dan memberi makna.

Ibu ibu siapndan sigap untuk memasak


Tradisi Parlon Banokeling membuktikan bahwa warisan leluhur bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga panduan hidup yang terus menyala hingga hari ini. Melalui kebersamaan, doa, dan kesederhanaan, masyarakat Jatilawang menjaga nyala tradisi agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama