![]() |
| Tahun 1997 Belum ada hape android |
Dari Gubuk Bambu Lahir Jejak Sejarah Pesantren Yang ada di Desa Rimong,Kecamatan Batealit ( Jepara )
Nama Kak Bambang asal dari kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.
Mungkin terdengar sederhana. Namun bagi sebagian masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Darul Hidayah, nama itu menyimpan sejarah besar. Sosok bernama lengkap Bambang Purnomo, pemuda asal Purbalingga, dikenal sebagai santri pertama sekaligus saksi awal berdirinya Pondok Pesantren Darul Hidayah pada era 1990-an.
Di masa ketika pesantren itu belum memiliki bangunan permanen, Kak Bambang bersama beberapa santri awal lainnya menjadi bagian dari Pondasi perjuangan berdirinya lembaga pendidikan Islam yang kini dikenal luas oleh masyarakat.
![]() |
| Pondok Pesantren generasi 1 |
Pesantren Berdiri Saat Kyai Rofiin Masih Muda
Pondok Pesantren Darul Hidayah didirikan oleh KH. Rofiin pada masa beliau masih muda dan belum menikah. Sepulangnya dari menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Hidayah Assalafiyah, Junggo Rejo Agung, Jombang, Kyai Rofiin muda memiliki tekad kuat untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh.
Alih-alih menunggu fasilitas mapan, beliau memilih langsung bergerak. Lingkungan tempat tinggalnya dijadikan titik awal berdirinya pesantren, meski dengan segala keterbatasan.
“Ilmu harus diamalkan, meski dimulai dari nol,” menjadi semangat tak terucap yang nyata dalam langkah Kyai Rofiin kala itu.
Gubuk Anyaman Bambu, Saksi Awal Perjuangan Santri
Berlatar dari keluarga yang kurang mampu, Kyai Rofiin bersama santri-santri awal seperti Kang Bambang, Koimun, Rusdi, Sabaruddin,Sarkoni,Slamet,Suleman dan lainnya bergotong royong membangun sebuah gubuk sederhana.
Gubuk tersebut:
- berdinding anyaman bambu,
- beratapkan welit (daun aren / rembulung),
- tanpa lantai semen, hanya tanah,
- tanpa fasilitas layak sebagaimana pesantren hari ini.
Namun dari gubuk itulah aktivitas ngaji dan nyantri berlangsung setiap hari.
Tidur beralaskan tanah, hanya ditemani tikar sederhana. Atap welit yang kerap beterbangan saat hujan deras dan angin kencang bukan hal asing. Namun kondisi itu tidak mematahkan semangat para santri muda dalam menuntut ilmu.
![]() |
| Alumni Ponpes Darul Hidayah Kecamatan Bojongsari |
Kak Bambang: Santri Pertama yang Menjadi Bagian Sejarah
Kak Bambang diperkirakan nyantri sejak 1997 hingga 2006. Masa yang panjang itu menjadikannya saksi hidup bagaimana Pondok Pesantren Darul Hidayah
bertumbuh dari gubuk bambu hingga menjadi lembaga pendidikan Islam yang dikenal masyarakat.
Meski telah lama menjadi alumni, nama Kak Bambang hingga kini masih dikenal oleh sebagian warga di sekitar pesantren. Ia bukan hanya santri, tetapi juga bagian dari sejarah berdirinya pesantren.
Tetap Mengabdi untuk NU dan Masyarakat
Menariknya, semangat pengabdian Kak Bambang tidak berhenti setelah keluar dari pesantren. Hingga kini, ia diketahui masih aktif sebagai pengurus MWC NU Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga.
Jejak pengabdian tersebut seolah menjadi kelanjutan dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak masa nyantri:
- keikhlasan,
- kesederhanaan,
- dan perjuangan untuk umat.
Warisan Nilai dari Pesantren Sederhana
Kisah Kak Bambang dan santri-santri awal Darul Hidayah menjadi pengingat bahwa pesantren besar tidak selalu lahir dari bangunan megah, tetapi dari:
- niat yang lurus,
- ilmu yang diamalkan,
- serta keteguhan dalam keterbatasan.
Pondok Pesantren Darul Hidayah hari ini berdiri di atas keringat, doa, dan perjuangan para santri awal yang rela hidup serba kekurangan demi ilmu dan keberkahan.
Baca juga artikel terkait:
- Sebanyak 525 warga Purbalingga akan berangkat melakukan ibadah haji tahun 2026.
- MWC NU Bojongsari Bersiap Rayakan Harlah NU ke-103 untuk Memperkuat Kepedulian Sosial dan Kebersamaan Anggota NU
- BAZNAS Purbalingga Salurkan Bantuan Bakso Kering untuk Korban Bencana Serayu dan Gunung Malang
Ruang Warta||W.setio




