Sajadah di Tengah Lumpur: Keajaiban Iman Ustadz Munhasir Selamat dari Banjir Bandang Gunung Malang
Informasi Tanggal

TANGGAL HARI INI

Sabtu

Wage

Tanggal Masehi

2 Mei 2026

Tanggal Hijriyah

18 Dzulqaidah 1447 H

"Waktu adalah anugerah, gunakan dengan sebaik-baiknya"

Sajadah di Tengah Lumpur: Keajaiban Iman Ustadz Munhasir Selamat dari Banjir Bandang Gunung Malang

Ilustrasi Ust.Munhasir membaca surat Yasiin 
di Luar Rumah


Warta Purbalingga — Kisah Ustadz Munhasir menjadi potret nyata ketika nalar manusia berhenti bekerja, dan keajaiban iman mengambil alih segalanya. Di tengah terjangan banjir bandang yang meluluhlantakkan Dusun Gunung Malang, rumah sang guru madrasah justru tetap berdiri, seolah dijaga oleh tangan tak kasat mata.
  • Banjir Bandang Gunung Malang Menghantam Sabtu Dini Hari
Peristiwa mencekam itu terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Gemuruh air bercampur batu dan batang pohon menjadi tanda datangnya bencana besar. Dalam hitungan menit, banjir bandang menyapu Dusun Gunung Malang tanpa ampun.
Tiga Rumah Hanyut, Rumah Ustadz Munhasir Tetap Berdiri
Tiga belas rumah yang berada tepat di depan kediaman Ustadz Munhasir lenyap tak berbekas, hanyut ditelan arus deras yang gelap dan ganas. Secara logika, rumah Munhasir—yang posisinya sejajar—seharusnya bernasib sama.
Namun saat fajar menyingsing, warga dibuat terdiam.
Rumah itu masih berdiri kokoh, meski lumpur pekat merendam hingga menyentuh atap. Dinding-dindingnya seakan dipeluk kekuatan tak terlihat, menahan derasnya air agar tidak roboh.
18 Jam Terpisah dari Keluarga di Tengah Lumpur
Bagi Munhasir, cobaan terberat bukanlah hancurnya harta benda, melainkan ketidakpastian keselamatan istri dan anaknya.
Doa yang Tak Pernah Putus
Selama 18 jam penuh, ia terpisah dari keluarganya. Dalam kondisi dusun yang lumpuh total, Munhasir hanya bisa berserah diri, melangitkan doa di tengah lumpur yang mematikan.
Baru pada pukul 21.00 WIB, air mata haru pecah.
Ia akhirnya menemukan istri dan anaknya selamat di rumah seorang kerabat.
Sumber Penghidupan Ludes, Iman Tetap Tegak
Cobaan belum berhenti di situ.
Kebun bawang dan kentang—satu-satunya sumber penghidupan untuk membiayai pendidikan anaknya yang mondok di Pesantren Minhajut Tholabah—lenyap tersapu banjir.
Secara materi, Munhasir kini hampir tak memiliki apa-apa.
Namun satu hal tetap utuh dan berdiri tegak: iman di dadanya.
Kesaksian Penghulu KUA: Keikhlasan yang Menggetarkan
Abdul Rauf, Penghulu KUA Karangreja, tak kuasa menahan air mata saat menceritakan sosok sahabatnya itu.
Pribadi Lembah Manah dan Loman
Menurut Raub, Ustadz Munhasir dikenal sebagai pribadi yang lembah manah (rendah hati) dan loman (dermawan). Pengabdiannya kepada umat dilakukan tanpa pamrih, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun.

Ilustrasi air bah di Gunung Malang

“Bahkan di hari musibah itu, saat rumahnya terkubur lumpur, beliau masih sempat mengirim pesan permohonan maaf karena tidak bisa mendampingi prosesi akad nikah warga. Padahal wilayahnya lumpuh total,” kenang Raub dengan suara bergetar.
Pesan Keimanan dari Gunung Malang
Bagi warga Dusun Gunung Malang, selamatnya rumah Ustadz Munhasir bukan sekadar kebetulan geografis. Peristiwa ini diyakini sebagai pesan cinta dari Sang Pencipta.
Bahwa bagi hamba-Nya yang mengabdikan hidup untuk menjaga agama dan umat, Allah sendiri yang akan menjaga rumah dan kehidupannya.
Gotong Royong Warga dan Banser serta berbagai unsur relawan turun untuk Bersihkan Lumpur serta alat alat berat,ada bekco,doser dan anak anak Pramuka SE kabupaten Purbalingga.
Pada Selasa, 27 Januari 2026, puluhan warga bersama barisan Banser bahu-membahu membersihkan lumpur dari rumah tersebut.
Rumah Penuh Lumpur, Namun Penuh Cahaya
Meski dinding dan lantainya masih diselimuti tanah, rumah itu kini menjadi simbol harapan.
Sebuah sajadah di tengah lumpur, saksi bahwa iman mampu berdiri tegak bahkan ketika segalanya runtuh.



Kontributor Warta Purbalingga// Sutarno

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama