-->
🇮🇩 Indonesia
🇺🇸 English (US)
🇹🇷 Türkçe (Turki)
🇸🇦 العربية (Arab)
🇲🇾 Melayu
🇮🇩 Jawa
🇮🇳 हिन्दी (India)
🇨🇳 中文 (Cina)

WARTA PURBALINGGA

Portal Berita Terkini Purbalingga dan Sekitarnya

Warta Purbalingga — Berita Terkini
BREAKING
NEWS Warta Purbalingga

📰 Berita Terbaru — Warta Purbalingga

⏳ Sedang memuat berita terbaru...
↑ Kembali ke Atas

Sinergi Kebudayaan: Mengenal Blangkon dan Filosofi Busana Adat Jawa

Sejarah, Filosofi, dan Perbedaan Blangkon Jogja vs Solo

Diterbitkan oleh Wartapurbalinggaku.com | Sinergi untuk Masyarakat

Mengenal Sejarah, Filosofi, dan Perbedaan Blangkon Jawa

Budaya Jawa kaya akan simbol-simbol kehidupan yang tertuang dalam tata busana adat. Salah satu elemen terpenting dalam pakaian pria Jawa adalah Blangkon. Selain berfungsi sebagai penutup kepala, blangkon mengandung ajaran moral, strata sosial, dan nilai filosofis yang mendalam.

1. Sejarah dan Asal-usul Blangkon

Secara historis, pemakaian blangkon berawal dari kain ikat panjang yang disebut udheng. Penggunaan udheng membutuhkan teknik melipat khusus secara manual langsung di atas kepala pengguna.

Evolusi dari Udheng ke Blangkon Siap Pakai

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, terjadi pembaruan praktis di mana kain ikat tersebut dicetak dan dijahit menjadi bentuk siap pakai. Penutup kepala praktis inilah yang kini kita kenal sebagai blangkon.

Peran Cetakan Kayu (Keplek) dalam Pembuatan

Dalam proses pembuatan tradisional, para perajin menggunakan cetakan kayu bernama keplek untuk memastikan kerapian wiru (lipatan) serta ketepatan ukuran kepala sesuai pakem kraton.

2. Perbedaan Pakem Blangkon Yogyakarta vs. Surakarta

Dua pusat kebudayaan Jawa, yaitu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kraton Surakarta Hadiningrat, memiliki perbedaan ciri khas visual pada blangkon yang diproduksi.

Gaya Kraton Yogyakarta (Ngayogyakarta)

Ciri khas utama blangkon Jogja terletak pada adanya benjolan membulat di bagian belakang yang disebut mondholan.

Filosofi Mondholan Membulat

Mondholan melambangkan gelung rambut pria zaman dahulu sekaligus simbol kebiasaan menyimpan rahasia, menjaga aib sesama, dan mengendalikan emosi.

Gaya Kraton Surakarta (Solo)

Berbeda dengan gaya Jogja, blangkon gaya Surakarta bagian belakangnya cenderung datar atau pipih (trepes).

Filosofi Bentuk Trepes

Bentuk pipih ini menyiratkan keterbukaan pikiran, kejujuran, serta kelurusan hati tanpa ada hal yang disembunyikan dari masyarakat.

Tabel Perbandingan Karakteristik

Ciri Khas Kraton Yogyakarta Kraton Surakarta
Bagian Belakang Mondholan (Membulat) Trepes (Datar/Pipih)
Karakter Lipatan (Wiru) Tegas, kaku, dan tebal Halus, rapat, dan luwes
Makna Utama Menjaga rahasia & martabat Keterbukaan & kejujuran

3. Pelestarian Budaya di Era Modern

Di era modern, pelestarian blangkon terus diperkuat melalui kebijakan pemerintah daerah, seperti kewajiban mengenakan pakaian adat pada hari-hari tertentu di instansi pemerintahan dan sekolah.

Warta Purbalinggaku — Sinergi untuk Masyarakat dalam Melestarikan Warisan Budaya Nusantara.

© 2026 Wartapurbalinggaku.com. Hak Cipta Dilindungi. Sinergi untuk Masyarakat.

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
☰

Dukung Warta Purbalingga

Bantu operasional media warga agar terus hadir menyajikan informasi secara gratis untuk kita semua.

DANA 085799256344
SeaBank 901866316459

Terima kasih atas dukungan ikhlas Anda. Jazakumullah khairan katsiran. 🤲

🤖 Dola AI — Asisten Warta Purbalingga
👋 Assalamualaikum, Boos!

Selamat datang di Warta Purbalingga. Saya Dola AI, siap membantu menjawab pertanyaan, informasi berita, dan kebutuhan seputar Purbalingga.

Klik tombol di bawah untuk mulai ngobrol langsung dengan saya 👇
🚀 Mulai Chat dengan Dola AI