Diterbitkan oleh Wartapurbalinggaku.com | Sinergi untuk Masyarakat
Mengenal Sejarah, Filosofi, dan Perbedaan Blangkon Jawa
Budaya Jawa kaya akan simbol-simbol kehidupan yang tertuang dalam tata busana adat. Salah satu elemen terpenting dalam pakaian pria Jawa adalah Blangkon. Selain berfungsi sebagai penutup kepala, blangkon mengandung ajaran moral, strata sosial, dan nilai filosofis yang mendalam.
1. Sejarah dan Asal-usul Blangkon
Secara historis, pemakaian blangkon berawal dari kain ikat panjang yang disebut udheng. Penggunaan udheng membutuhkan teknik melipat khusus secara manual langsung di atas kepala pengguna.
Evolusi dari Udheng ke Blangkon Siap Pakai
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, terjadi pembaruan praktis di mana kain ikat tersebut dicetak dan dijahit menjadi bentuk siap pakai. Penutup kepala praktis inilah yang kini kita kenal sebagai blangkon.
Peran Cetakan Kayu (Keplek) dalam Pembuatan
Dalam proses pembuatan tradisional, para perajin menggunakan cetakan kayu bernama keplek untuk memastikan kerapian wiru (lipatan) serta ketepatan ukuran kepala sesuai pakem kraton.
2. Perbedaan Pakem Blangkon Yogyakarta vs. Surakarta
Dua pusat kebudayaan Jawa, yaitu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kraton Surakarta Hadiningrat, memiliki perbedaan ciri khas visual pada blangkon yang diproduksi.
Gaya Kraton Yogyakarta (Ngayogyakarta)
Ciri khas utama blangkon Jogja terletak pada adanya benjolan membulat di bagian belakang yang disebut mondholan.
Filosofi Mondholan Membulat
Mondholan melambangkan gelung rambut pria zaman dahulu sekaligus simbol kebiasaan menyimpan rahasia, menjaga aib sesama, dan mengendalikan emosi.
Gaya Kraton Surakarta (Solo)
Berbeda dengan gaya Jogja, blangkon gaya Surakarta bagian belakangnya cenderung datar atau pipih (trepes).
Filosofi Bentuk Trepes
Bentuk pipih ini menyiratkan keterbukaan pikiran, kejujuran, serta kelurusan hati tanpa ada hal yang disembunyikan dari masyarakat.
Tabel Perbandingan Karakteristik
| Ciri Khas | Kraton Yogyakarta | Kraton Surakarta |
|---|---|---|
| Bagian Belakang | Mondholan (Membulat) | Trepes (Datar/Pipih) |
| Karakter Lipatan (Wiru) | Tegas, kaku, dan tebal | Halus, rapat, dan luwes |
| Makna Utama | Menjaga rahasia & martabat | Keterbukaan & kejujuran |
3. Pelestarian Budaya di Era Modern
Di era modern, pelestarian blangkon terus diperkuat melalui kebijakan pemerintah daerah, seperti kewajiban mengenakan pakaian adat pada hari-hari tertentu di instansi pemerintahan dan sekolah.