WARTA PURBALINGGA

Portal Berita Terkini Purbalingga dan Sekitarnya

Kitab "Ta'lim Muta'alim"

Kitab Ta'lim Muta'allim - Panduan Etika Mencari Ilmu & Taat kepada Allah
تَعْلِيْمُ الْمُتَعَلِّمِ طَرِيْقَ التَّعَلُّمِ

TA'LIM MUTA'ALLIM

Panduan Etika Mencari Ilmu & Cara Taat kepada Allah

1. Niat yang Benar & Dasar Ketaatan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ. وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ: تَصْحِيْحُ النِّيَّةِ، وَإِخْلَاصُهَا لِلَّهِ تَعَالَى، طَلَبًا لِمَرْضَاتِهِ، وَتَحْصِيْلًا لِمَا يُقَرِّبُ إِلَيْهِ، وَنَيْلَ ثَوَابِهِ الْجَزِيْلِ.
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Wa bihī nasta'īnu 'alā umūrid-dunyā wad-dīn. Amma ba'du: Fa inna awwala mā yajibu 'alal-muta'allim: Taṣḥīḥun-niyyah, wa ikhlāṣuhā lillāhi ta'ālā, ṭalaban li-marḍātih, wa taḥṣīlan limā yuqarribu ilaih, wa nayla tsawābihil-jazīl.
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan dalam segala urusan dunia dan agama. Adapun setelah itu: Sesungguhnya hal pertama yang wajib dimiliki oleh orang yang menuntut ilmu adalah memperbaiki niat, mengikhlaskannya semata-mata karena Allah Ta'ala, mengharap keridaan-Nya, meraih apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, serta mendapatkan pahala yang besar dari-Nya."

📌 Inti: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang didasari ketaatan dan niat semata-mata karena Allah, bukan untuk pujian manusia atau kedudukan.

2. Akhlak Taat: Kasih Sayang & Menjaga Hati

وَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبُ الْعِلْمِ مُشْفِقًا نَاصِحًا غَيْرَ حَاسِدٍ. فَالْحَسَدُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ. وَكَانَ أُسْتَاذُنَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ بُرْهَانُ الدِّيْنِ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُوْلُ: قَالُوْا إِنَّ ابْنَ الْمُعَلِّمِ يَكُوْنُ عَالِمًا لِأَنَّ الْمُعَلِّمَ يُرِيْدُ أَنْ يَكُوْنَ تَلَامِيْذُهُ فِي الْقُرْآنِ عُلَمَاءَ. فَبِبَرَكَةِ اعْتِقَادِهِ وَشَفَقَتِهِ يَصْلُحُ ابْنُهُ عَالِمًا.
Wa yanbaghī an yakūna ṣāḥibul-'ilmi musyfiqan nāshiḥan ghaira ḥāsid. Fal-ḥasadu lā yaḍurru wa lā yanfa'. Wa kāna ustādunā Syaikhul-Islām Burhānuddīn raḥimahullāhu yaqūlu: Qālū inna ibnal-mu'allimi yakūnu 'āliman li annal-mu'allima yurīdu an yakūna talāmīdzuhu fil-Qur'āni 'ulamā'. Fa bi-barakati'tiqādihi wa syafaqatihi yaṣluḥu ibnuhu 'āliman.
"Orang yang memiliki ilmu hendaknya bersifat penyayang, pemberi nasihat, dan tidak memiliki sifat dengki. Dengki itu tidak membawa manfaat, justru mencelakakan diri sendiri. Guru kami Syaikhul Islam Burhanuddin rahimahullah berkata: 'Para ulama mengatakan: Anak seorang guru bisa menjadi orang yang berilmu, karena gurunya selalu berkeinginan agar murid-muridnya menjadi ahli ilmu Al-Quran. Maka dengan berkah keyakinan dan kasih sayang yang tulus, anaknya pun menjadi orang yang berilmu dan taat kepada Allah.'"

3. Taat kepada Guru & Menghormati Ilmu Allah

وَمِنْ حُقُوْقِ الْمُعَلِّمِ: تَعْظِيْمُهُ، وَتَوْقِيْرُهُ، وَحُسْنُ الِاسْتِمَاعِ إِلَيْهِ، وَالتَّوَاضُعُ لَهُ، وَعَدَمُ الْكَلَامِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ عَلَى صَوْتِهِ، وَلَا يَجْلِسُ بَيْنَ يَدَيْهِ جُلُوْسَ الْمُتَكَبِّرِ، بَلْ جُلُوْسَ الْمُتَعَلِّمِ الْمُتَوَاضِعِ.
Wa min ḥuqūqil-mu'allim: Ta'ẓīmuhu, wa tawqīruhu, wa ḥusnul-istimā'i ilaih, wat-tawāḍu'u lah, wa 'adamul-kalāmi baina yadaih, wa lā yarfa'u ṣawtahu 'alā ṣawtih, wa lā yajlisu baina yadaih julūsal-mutakabbir, bal julūsal-muta'allimil-mutawāḍi'.
"Di antara hak-hak guru yang harus dipenuhi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah: Memuliakan dan menghormatinya, mendengarkan pelajaran dengan baik, bersikap rendah hati, tidak berbicara di hadapannya, tidak meninggikan suara melebihi suara guru, dan tidak duduk dengan sikap sombong. Sebaliknya, duduklah dengan sikap seorang penuntut ilmu yang rendah hati dan sadar akan kebesaran ilmu Allah yang disampaikan."

4. Taat dalam Perkataan & Perbuatan

وَلْيَحْفَظْ لِسَانَهُ عَنِ الْكَلَامِ الْقَبِيْحِ، وَالْغِيْبَةِ، وَالنَّمِيْمَةِ، وَالْكَذِبِ، وَالسُّخْرِيَّةِ، وَاللَّعْنِ، وَكُلِّ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ تَعَالَى. وَلْيَكُنْ كَلَامُهُ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ.
Wa liyaḥfaẓ lisānahu 'anil-kalāmil-qabīḥ, wal-ghībah, wan-namīmah, wal-kadzib, was-sukhriyyah, wal-la'ni, wa kulli mā yuskhiṭullāha ta'ālā. Wa liyakun kalāmuhu bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanah.
"Hendaklah ia menjaga lisannya dari ucapan yang buruk, ghibah, mengadu domba, berbohong, mengejek, mencela, dan segala perkataan yang membuat murka Allah Ta'ala. Hendaklah setiap ucapannya mengandung kebijaksanaan dan nasihat yang baik, sebagai wujud ketaatan dalam segala keadaan."

5. Ketaatan: Mengamalkan Ilmu

وَالْعِلْمُ بِغَيْرِ عَمَلٍ ضَرَّارٌ، وَالْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ ضَلَالٌ. فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ أَنْ يَعْمَلَ بِمَا عَلِمَ، وَيُطِيْعَ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ.
Wal-'ilmu bi-ghairi 'amalin ḍarrār, wal-'amalu bi-ghairi 'ilmin ḍalāl. Fal-wājibu 'alal-muta'allim an ya'mala bimā 'alima, wa yuṭī'allāha fis-sarrā'i waḍ-ḍarrā'i, war-rakhā'i wasy-syiddah.
"Ilmu tanpa amal itu mendatangkan kerugian, sedangkan amal tanpa ilmu itu kesesatan. Maka wajib bagi penuntut ilmu untuk mengamalkan apa yang ia ketahui, serta taat kepada Allah dalam keadaan senang maupun susah, lapang maupun sempit."

Posting Komentar