Dari Gubuk Bambu Menuju Penerus Peradaban Islam
JEPARA — Di pinggiran pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya di Desa Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, berdiri sebuah lembaga pendidikan Islam yang kini menjadi kebanggaan warga sekitar. Pondok Pesantren Darul Hidayah. Siapa yang menyangka, di balik bangunannya yang kini tampil megah, rapi, dan mulai melangkah di era digitalisasi, kisah berdirinya bermula dari kesederhanaan yang luar biasa.
Sekitar tahun 1997, di tengah keterbatasan yang ada, berdirilah cikal bakal Pondok Pesantren Darul Hidayah. Bermula dari sebuah rumah sederhana dan gubuk bambu yang dibangun bersama-sama, lahir dari keikhlasan dan tekad bersama antara pendiri dan para santri awal. Tidak ada gedung bertingkat, tidak ada fasilitas lengkap. Hanya ada niat tulus untuk menebarkan cahaya ilmu agama di tengah masyarakat pesisir.
Pondok Pesantren Darul Hidayah ini dipimpin langsung oleh Kyai Ahmad Rofi'in, sosok yang dengan sabar dan ikhlas membimbing para santrinya selama puluhan tahun. Beliau sendiri memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, yaitu sebagai alumni Pondok Pesantren Jonggo (Jombang) dan juga Pengasuh Pondok Jonggo tersebut"sebagai alumni Ponpes Tebu Ireng. Ilmu yang beliau dapatkan tidak hanya sekadar dipelajari, namun diamalkan dan diteruskan ke generasi berikutnya yang berada di Jepara
Awalnya, siapa sangka Pondok, ini hanya dimulai dengan lima hingga tujuh orang santri. Sebuah angka yang kecil, namun membawa harapan yang besar. Kelima santri pertama ini kemudian tinggal dan menuntut ilmu di tempat ini selama kurang lebih lima hingga sembilan tahun.
Beliau mengajarkan ilmu yang seharusnya menjadi dasar setiap muslim: ilmu aqidah yang lurus, ilmu syariat yang benar, serta bagaimana menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablum minallah) dan hubungan antar sesama manusia (hablum minannas). Menurut beliau, ibadah tidak boleh berlebihan di satu sisi dan mengabaikan sisi lain. Keduanya harus berjalan seimbang, maksimal, dan benar.
Proses belajar di Darul Hidayah bukanlah sesuatu yang instan. Para santri ditempa dengan kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan. Tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Setelah menyelesaikan masa belajarnya, para santri ini pulang ke daerah asalnya masing-masing. Kini, mereka tersebar dan menjadi tonggak penerus ilmu agama di wilayahnya masing-masing. Banyak di antara mereka yang dipercaya menjadi pemimpin agama, pendidik, dan tokoh masyarakat.
Salah satu bukti keberhasilan didikan beliau adalah para alumni yang kini mampu mengemban amanah di berbagai tempat. Salah satu santri angkatan pertama tersebut kini berkiprah di Kabupaten Purbalingga, bukan hanya sebagai jurnalis yang mengabarkan kebenaran, tetapi juga diberi amanah sebagai Ketua Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Bojongsari. Bersama tokoh masyarakat lainnya, mengikuti tabarukan dengan Nahdzotul Ulama — Mbah Hasyim Ashari — untuk terus melanjutkan menjaga keutamaan, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.
Perjalanan Pondok Pesantren Darul Hidayah dari gubuk bambu hingga atap wellit, menjadi Pon-Pes dan terus bertransformasi menuju era digitalisasi adalah bukti nyata bahwa keberkahan tidak datang dari kemewahan semata, melainkan dari keikhlasan pendirinya, keberkahan ilmunya, dan kesungguhan para santrinya dalam menjaga amanah ilmu yang dipelajari. Semoga keberkahan ini terus mengalir, dan para alumni senantiasa menjadi penerus yang membawa kebaikan bagi nusa, bangsa, dan agama.
📍 TPQ & Pondok Pesantren Darul Hidayah
Desa Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara — Kode Pos: 59461
