🇮🇩 Indonesia
🇺🇸 English (US)
🇹🇷 Türkçe (Turki)
🇸🇦 العربية (Arab)
🇲🇾 Melayu
🇮🇩 Jawa
🇮🇳 हिन्दी (India)
🇨🇳 中文 (Cina)

WARTA PURBALINGGA

Portal Berita Terkini Purbalingga dan Sekitarnya

Budayawan Purbalingga Tampil di TVRI: Kebudayaan Lokal Tak Boleh Dianggap Kuno atau Sirik

Berdasarkan wawancara yang disiarkan TVRI, budayawan asal Purbalingga (AGUS SUKOCO)menyampaikan pentingnya pelestarian budaya..."
Budayawan Purbalingga Tampil di TVRI: Kebudayaan Lokal Tak Boleh Dianggap Kuno atau Sirik
📅 21 Oktober 2026 | 📍 Purbalingga — TVRI Jakarta

PURBALINGGA — Seorang budayawan asal Kabupaten Purbalingga menjadi narasumber utama dalam wawancara khusus yang disiarkan oleh Lembaga Penyiaran Publik TVRI. Dalam dialog yang mendalam tersebut, ia menyoroti dua tantangan besar yang mengancam keberlangsungan warisan budaya bangsa: dianggap kuno oleh modernitas, dan dianggap tabu atau sirik oleh sebagian pemahaman agama.

📺 Wawancara yang Menggugah Kesadaran Nasional

Dalam wawancara yang berlangsung di studio TVRI, budayawan tersebut menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai posisi kebudayaan masa lalu kita yang seolah terjepit di antara dua arus kuat.

"Kita kan dihantam dari berbagai sisi. Di satu sisi, sesuatu yang masa silam dari kebudayaan kita, oleh modernitas barat akan dianggap kuno. Di sisi lain, bahkan oleh agama akan dianggap sirik, dianggap sesuatu yang harus dijauhi. Dua tekanan itulah yang membuat kita semakin menjauh dari jati diri kita sendiri," ujarnya dalam dialog tersebut.

Pernyataan ini memicu perhatian luas dari pemirsa di seluruh Indonesia, karena menyentuh akar persoalan yang jarang dibahas secara terbuka: mengapa generasi muda semakin asing dengan warisan budayanya sendiri.

🔍 Harus Ada Proses Rasionalisasi

Menurut budayawan asal Purbalingga ini, solusi yang dibutuhkan bukanlah pertentangan antar-pihak, melainkan edukasi dan rasionalisasi.

"Maka harus ada edukasi, baik dari pemuka agama, para budayawan, maupun para akademisi. Perlu dijelaskan secara rasional nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sehingga masyarakat tidak terjebak pada sekadar penampilan luar saja."

Ia menekankan bahwa di era yang serba rasional dan modern ini, masyarakat justru sedang kehilangan kemampuan memaknai budaya sendiri. Semua warisan leluhur sebenarnya sarat nilai tinggi, namun karena kurangnya pemahaman, banyak yang sekadar menilainya sebagai sesuatu yang kuno atau tidak relevan.

👦 Mulai dari Keluarga dan Pendidikan

Pentingnya mengenalkan budaya sejak dini menjadi penekanan utama dalam wawancara tersebut.

"Dimulai dari anak-anak, dari keluarga, kemudian lembaga pendidikan dan lembaga agama perlu terlibat bersama. Perkenalkan budaya sejak dini agar anak-anak tidak merasa asing di rumahnya sendiri."

Namun, penyampaiannya pun harus berubah — tidak bisa lagi dengan cara yang kaku. Budaya perlu dikemas secara menarik, menyenangkan, dan sesuai zaman.

Baca Artikel Ini

  1. semangat syiar ahad pon
  2. Pemuda Kuncen
  3. Persiapan Gladi Vokal

🎮 Teknologi Bukan Musuh, Alat Pelestari

Salah satu gagasan menarik yang disampaikan adalah pemanfaatan teknologi dan media masa kini untuk melestarikan budaya.

"Ini perlu dikemas secara modern. Mungkin dengan sentuhan teknologi media hari ini. Mengapa tidak mengadopsi nilai-nilai budaya ke dalam bentuk video game, musik, film, atau cerita digital? Banyak ahli dan pakar bisa mengerjakan ini, tinggal mengambil gagasan dasarnya dari kebudayaan."

Dengan cara itulah, kedaulatan budaya bisa terjaga. Setiap daerah sebenarnya sudah memiliki kekayaan budaya yang bisa dikembangkan menjadi nilai ekonomi sekaligus identitas, tanpa harus terus-menerus mengambil dari luar.

⚠️ Makna Tetap Harus Terjaga

Meski dikemas ulang dengan gaya modern, budayawan ini mengingatkan satu hal penting: filosofi dan makna intinya tidak boleh hilang.

"Ada batas yang tidak boleh dilampaui. Kemasannya boleh berubah, tapi filosofi dan makna yang kuat tetap dipertahankan melalui cerita yang bermakna. Orang selalu butuh makna, bukan sekadar tontonan. Agar tidak salah paham, storytelling yang kuat harus tetap menjadi jiwa dari setiap karya budaya modern kita."

✅ Penutup

Wawancara ini menjadi pengingat penting bahwa melestarikan budaya bukan berarti menentang kemajuan zaman. Justru dengan memahami akar budayanya, suatu bangsa akan semakin kokoh berdiri di tengah arus globalisasi. Sebagaimana pesan yang disampaikan: bangsa yang mengenal budayanya sendiri adalah bangsa yang berdaulat.

Warta Purbalingga — Berita dan Informasi Terkini

© 2026 Warta Purbalingga. Semua Hak Dilindungi.

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
☰

Dukung Warta Purbalingga

Bantu operasional media warga agar terus hadir menyajikan informasi secara gratis untuk kita semua.

DANA 085799256344
SeaBank 901866316459

Terima kasih atas dukungan ikhlas Anda. Jazakumullah khairan katsiran. 🤲

🤖 Dola AI — Asisten Warta Purbalingga
👋 Assalamualaikum, Boos!

Selamat datang di Warta Purbalingga. Saya Dola AI, siap membantu menjawab pertanyaan, informasi berita, dan kebutuhan seputar Purbalingga.

Klik tombol di bawah untuk mulai ngobrol langsung dengan saya 👇
🚀 Mulai Chat dengan Dola AI