Bagikan Artikel:
Sedulur Papat Lima Pancer & Empat Unsur Penciptaan
Hikmah Warisan Budaya Leluhur Jawa
Di dalam warisan budaya leluhur Nusantara, terutama masyarakat Jawa, dikenal ajaran tentang Sedulur Papat Lima Pancer, yang kerap disertai ungkapan Kakang Kawah, Adi-Ari-Ari, Getih. Ajaran ini berkaitan dengan empat unsur utama pembentuk alam semesta: tanah, air, api, dan udara, yang juga selaras dengan hikmah hadis Nabi Muhammad SAW tentang penciptaan makhluk.
Artinya: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dari empat perkara: tanah, air, api, dan angin (udara). Dari tanah ada kesabaran, dari air ada kelembutan, dari api ada semangat, dan dari angin ada kelapangan dada.
(Hadis riwayat Imam Tirmidhi)
Menurut penjelasan turun-temurun leluhur kita, ungkapan Kakang Kawah, Adi-Ari-Ari, Getih merupakan isyarat terhadap keempat unsur tersebut:
✅ Kakang Kawah (Kakak Kawah / Api) → lambang semangat dan cahaya kebenaran
✅ Adi-Ari-Ari (Adik Udara / Angin) → lambang kelapangan hati dan pergerakan hidup
✅ Getih (Darah yang bersumber dari Air & Tanah) → terbagi menjadi dua: Tanah sebagai dasar keteguhan, dan Air sebagai aliran kehidupan
Keempat ini disebut Sedulur Papat (Empat Saudara), sedangkan Lima Pancer adalah pusat atau inti penyatuan keempat unsur tersebut yang bersumber dari kuasa Allah SWT. Leluhur Jawa mengajarkan bahwa keempat unsur ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Unsur tanah adalah dasar dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Tanah tempat kita berpijak, tempat tumbuhnya tanaman pangan, tempat bersemayam makhluk hidup. Ia melambangkan keteguhan hati, kesabaran, dan ketahanan dalam menghadapi cobaan hidup. Orang yang memiliki sifat tanah akan tetap teguh pendiriannya, tidak mudah goyah meskipun menghadapi kesulitan yang datang silih berganti.
Selanjutnya adalah unsur air. Air adalah sumber kehidupan yang mengalir tanpa henti. Sifat air lembut, dapat menyesuaikan diri dengan tempat ia berada, dan membersihkan segala kekotoran. Dalam makna batin, air melambangkan kelancaran rezeki, kelembutan budi pekerti, dan kesucian hati. Leluhur mengajarkan agar kita memiliki sifat yang lunak seperti air, tidak mudah marah, dan selalu berusaha membersihkan diri dari perbuatan yang buruk. Namun air juga bisa menjadi bahaya jika meluap-luap, yang menjadi peringatan agar kita tidak berlebihan dalam segala hal.
Kemudian unsur api (Kakang Kawah). Api memiliki sifat panas, bercahaya, dan mampu membakar hal-hal yang tidak berguna. Sebagai cahaya, api melambangkan semangat hidup, keberanian untuk membuka jalan kebaikan. Sebagai pembakar, ia menjadi peringatan bagi keburukan dan amarah yang jika tidak dikendalikan dapat merusak diri sendiri dan orang lain.
Yang terakhir adalah unsur udara (Adi-Ari-Ari). Udara tidak terlihat oleh mata, namun setiap saat kita menghirupnya untuk tetap hidup. Udara bergerak ke mana-mana, menyebarkan kabar dan menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Ia melambangkan kelapangan dada, kerukunan, dan komunikasi yang baik antar sesama.
Semua keempat saudara ini bersatu pada inti yang disebut Lima Pancer, yaitu pusat keseimbangan yang berasal dari izin Allah SWT. Dalam pandangan Islam, kita meyakini bahwa keseimbangan itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan atas kuasa-Nya yang menciptakan tanah, air, api, dan udara. Kita dapat mengambil hikmah dari warisan budaya leluhur ini untuk memperbaiki budi pekerti, bukan menganggap unsur tersebut memiliki kekuatan sendiri.
Di tengah zaman yang serba cepat ini, banyak orang lupa merenungkan ciptaan-Nya. Melalui pemahaman tentang Sedulur Papat Lima Pancer beserta keempat unsur penciptaan dan petunjuk hadis Nabi, kita diingatkan untuk bersabar seperti tanah, lembut seperti air, bersemangat seperti api, dan berlapang dada seperti udara. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari warisan budaya leluhur ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.
