![]() |
| Tirakat di bawah pohon Besar |
Dalam khazanah sejarah daerah di wilayah Banyumas Raya, terdapat naskah kuno yang menjadi saksi perjalanan panjang pembentukan wilayah dan pergantian kekuasaan, yaitu Babad Onje dan Babad Purbalingga. Kedua naskah ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan mengungkapkan hubungan erat antara tiga wilayah bersejarah: Kadipaten Onje, Kadipaten Karanglewas, dan Kabupaten Purbalingga yang kita kenal saat ini.
Asal Usul dari Kadipaten Onje
Berdasarkan catatan dalam Babad Onje, kisah sejarah ini bermula dari wilayah Kadipaten Onje. Di tempat inilah lahir sosok penting bernama Kyai Arsakusuma atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Arsantaka. Beliau merupakan putra dari Bupati Onje II. Karena suatu peristiwa dan dorongan untuk menyebarkan agama serta mencari wilayah baru yang lebih subur, Kyai Arsantaka kemudian meninggalkan daerah asalnya dan melakukan perjalanan ke arah timur hingga sampai ke wilayah yang kala itu dikenal sebagai tanah pembukaan baru.
Kepergian tokoh ini dari Onje menjadi awal mula terbukanya babak baru sejarah di wilayah sekitarnya. Ilmu agama, kebijaksanaan, dan keturunan yang dibawanya kelak menjadi akar kekuasaan di daerah-daerah yang disinggahinya.
Karanglewas: Pusat Pemerintahan Pertama
Setelah melakukan perjalanan, Kyai Arsantaka tiba di wilayah Karanglewas. Pada masa itu, wilayah ini sudah menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh penguasa setempat. Berkat keilmuan dan kewibawaan yang dimiliki, Kyai Arsantaka diterima dengan baik dan diangkat menjadi penasihat utama pemerintahan maupun tokoh agama yang sangat dihormati di wilayah tersebut.
Hubungan yang terjalin semakin erat ketika putra kandung beliau, Raden Arsayuda, diangkat menjadi penguasa wilayah Karanglewas dengan gelar Raden Tumenggung Dipayuda III. Di sinilah benih pemerintahan tumbuh dan berkembang. Karanglewas menjadi pusat segala aktivitas pemerintahan, tempat keputusan penting diambil, dan menjadi ibu kota wilayah sebelum akhirnya dipindahkan ke tempat yang baru.
Pemindahan Pusat Kekuasaan ke Purbalingga
Kisah perpindahan pusat pemerintahan ini terekam jelas dalam Babad Purbalingga. Atas saran dan petunjuk dari Kyai Arsantaka kepada putranya, diputuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Karanglewas ke lokasi baru yang dinilai lebih strategis, yaitu wilayah yang sekarang bernama Purbalingga.
Alasan pemindahan ini didasari oleh pertimbangan letak geografis yang lebih aman, subur, dan strategis untuk pengembangan wilayah ke depannya. Meskipun pusat pemerintahan dipindahkan, nama-nama wilayah, adat istiadat, dan akar sejarah yang terbentuk di Karanglewas tetap dibawa dan dilestarikan di tempat yang baru. Inilah sebabnya mengapa sejarah Purbalingga tidak bisa dipisahkan dari sejarah Karanglewas maupun asal-usul leluhurnya dari Onje.
Bukti Sejarah yang Masih Ada
Hingga saat ini, hubungan ketiga wilayah tersebut dapat dibuktikan melalui berbagai peninggalan sejarah. Salah satu yang paling menonjol adalah keberadaan Kompleks Makam Arsantaka yang terletak di Purbalingga, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh penghubung sejarah ini. Selain itu, naskah Babad Onje dan Babad Purbalingga yang disimpan dan dilestarikan menjadi sumber utama yang dikutip dalam berbagai tulisan sejarah resmi daerah yang disusun oleh Dinas Kebudayaan dan para sejarawan.
Menelusuri kisah dalam babad ini mengajarkan kita bahwa perubahan nama tempat dan perpindahan pusat kota tidak memutuskan tali sejarah, melainkan menjadi satu rangkaian perjalanan panjang peradaban yang terus tumbuh dan berkelanjutan dari masa ke masa.
![]() |
| Bupati Pertama Kab.PURBALINGGA |

