Hormati Bulan Suro dan Tahun Baru Islam, Desa Mipiran Gelar Ruwat Bumi Bersama Ki Gandhik Wayah Soegino
PURBALINGGA, wartapurbalinggaku.com — Menyambut datangnya bulan Suro dalam kalender Jawa sekaligus memperingati Tahun Baru Islam (Hijriyah), masyarakat Desa Mipiran, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, menggelar upacara adat Ruwat Bumi. Kegiatan tahunan ini merupakan tradisi sakral yang didedikasikan penuh sebagai bentuk penghormatan terhadap momentum pergantian tahun spiritual.
Berbeda dengan narasi yang sekadar menonjolkan sisi hiburan, esensi utama dari Ruwat Bumi di Desa Mipiran ini sejatinya berpusat pada nilai-nilai religius dan kultural bulan Suro. Bagi masyarakat agraris setempat, bulan Suro adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri (muhasabah), memanjatkan doa keselamatan agar desa dibersihkan dari segala marabahaya (pagebluk), serta ungkapan rasa syukur yang mendalam atas melimpahnya hasil bumi selama setahun terakhir.
"Evaluasi mendasar terhadap pelaksanaan tradisi ini ditekankan pada keselarasan makna pamflet kegiatan, di mana esensi penghormatan bulan Suro dan penanggalan Hijriyah harus tetap menjadi ruh utama, bukan sekadar tertutup oleh kemeriahan seremonial semata."
Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Budaya
Guna melengkapi khidmatnya peringatan bulan Suro, panitia penyelenggara menghadirkan pagelaran Wayang Kulit Gagrag Banyumasan yang menampilkan dalang muda berbakat, Ki Gandhik Wayah Soegino, diiringi oleh Karawitan Soegino Laras. Namun demikian, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk ini diposisikan sebagai sarana atau media penyampaian pesan luhur, bukan sebagai tujuan akhir dari kegiatan Ruwat Bumi.
Melalui tokoh punakawan khas Banyumasan seperti Bawor yang melambangkan kejujuran, blak-blakan (lugu), dan kesatria, pertunjukan seni ini diisi dengan tuntunan moral serta petuah bijak dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru. Sinergi antara adat Jawa dan nafas islami inilah yang coba terus dirawat oleh pemerintah desa beserta tokoh masyarakat Mipiran.
Komitmen Melestarikan Identitas Lokal
Kepala Desa Mipiran menyampaikan bahwa Ruwat Bumi ini adalah ikhtiar spiritual bersama. Pihaknya berharap, dengan tetap mengedepankan kesakralan bulan Suro dan Tahun Baru Hijriyah di dalam setiap publikasi serta pelaksanaan acara, masyarakat tidak kehilangan arah akan makna asli dari warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Rangkaian ritual yang dimulai sejak pagi hari dengan doa bersama dan prosesi gunungan hasil bumi, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran budaya pada sore hingga malam hari, berjalan dengan khidmat, tertib, dan aman. Momentum ini kembali menegaskan komitmen Desa Mipiran sebagai desa yang kukuh menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
