WARTA PURBALINGGA

Portal Berita Terkini Purbalingga dan Sekitarnya

Pentas Seni Budaya Wahyu Turonggo Putri di Karang Banjar, Tasyakuran Sasi Suro 1448 .H

🎭 Pentas Seni Budaya Wahyu Turonggo Putri: Merawat Warisan Luhur di Desa Karang Banjar

Minggu, 12 Juli menjadi hari yang penuh makna bagi seluruh warga Desa Karang Banjar. Pada pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, desa ini akan berubah menjadi pusat pertunjukan seni dan kebudayaan yang meriah dalam rangka peringatan Tasyakuran Sasi Suro 1448 Hijriah. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Wahyu Turonggo Putri bersama Pemuda Karang Banjar (PEKA) ini dibuka secara gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat, menjadi ajang silaturahmi sekaligus bukti nyata kekayaan budaya lokal yang terus dijaga dan dikembangkan dengan penuh semangat kebersamaan.

Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan wujud nyata keberagaman budaya yang saling melengkapi dan menyatu menjadi satu kesatuan yang indah. Di atas panggung, kita akan menemukan perpaduan yang harmonis antara seni pertunjukan rakyat, tarian tradisional, serta nilai-nilai luhur yang menjadi akar kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di wilayah eks Karesidenan Banyumas dan sekitarnya yang dikenal memiliki corak budaya khas — tegas namun tetap ramah, luwes, dan penuh kehangatan.

Sasi Suro sendiri merupakan momen istimewa dalam kalender masyarakat Jawa, ditandai dengan semangat memperbarui diri, membersihkan hati, dan mempererat tali persaudaraan antarsesama. Menyelenggarakan pentas seni budaya di momen ini memiliki makna yang sangat dalam: menjadikan warisan leluhur sebagai pondasi yang kokoh untuk melangkah ke masa depan, sekaligus mengenang jasa para pendahulu yang telah mewariskan kearifan lokal yang luar biasa indah dan bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat. Wahyu Turonggo Putri sebagai wadah kesenian yang bergerak konsisten di bidang pelestarian budaya, memegang peran sentral dalam mewujudkan tujuan mulia ini. Nama yang tersemat pada sanggar mengandung makna pesan atau petunjuk yang terus mengalir dan berkembang, menjadi energi positif yang disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa.

Keunikan utama dari acara ini terletak pada kekayaan jenis pertunjukan yang disajikan — hasil perpaduan berbagai unsur seni budaya daerah yang khas dan berkarakter kuat. Seperti yang tergambar jelas dalam pamflet acara, hadir berbagai bentuk kesenian yang menjadi kebanggaan daerah: mulai dari atraksi barong dan penari topeng yang gagah, penuh gerak dinamis, serta sarat simbolisme keberanian dan perlindungan; hingga tarian-tarian lembut yang ditampilkan oleh para penari dengan busana khas yang penuh detail ornamen keemasan dan kain selendang putih yang elegan. Perpaduan gerak yang gagah perkasa dengan kelembutan irama tari menggambarkan karakter masyarakat kita yang teguh dalam prinsip namun tetap santun, luwes, dan menjunjung tinggi nilai keindahan serta kesopanan dalam setiap tindak-tanduknya.

Peran Pemuda Karang Banjar atau yang disingkat PEKA menjadi kunci utama keberlanjutan budaya ini di tengah arus zaman yang terus berubah. Melalui kegiatan ini, generasi muda tidak hanya bertugas sebagai penyelenggara acara, tetapi juga menjadi penerus yang aktif mempelajari, mempraktikkan, sekaligus mengenalkan kembali kekayaan seni daerah kepada masyarakat luas. Semangat “PEKA” — peka terhadap lingkungan, peka terhadap budaya, dan peka terhadap kepentingan bersama — menjadi dasar seluruh rangkaian kegiatan yang disusun dengan rapi dan penuh tanggung jawab. Desa Karang Banjar yang menjadi lokasi utama penyelenggaraan, semakin menegaskan bahwa desa-desa di pedalaman tetap menjadi benteng utama pelestarian budaya Nusantara yang tak ternilai harganya. Dukungan penuh dari pemerintah daerah juga terlihat jelas melalui keikutsertaan lambang instansi terkait, menandakan bahwa seni dan budaya adalah tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah daerah.

Pentas seni yang berlangsung selama tujuh jam penuh ini dirancang agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga tamu undangan yang datang dari luar wilayah setempat. Kehadiran berbagai elemen seni yang “bercampur” dan bersatu menciptakan suasana yang hidup, meriah, namun tetap menjaga kesakralan nilai yang terkandung di dalamnya. Alunan musik gamelan yang menjadi jiwa setiap pertunjukan seni Jawa akan mengiringi setiap gerakan, mengajak penonton seolah kembali ke masa lalu namun tetap terasa relevan, dekat, dan menyentuh hati kehidupan masa kini.

Bagi warga sekitar maupun masyarakat umum yang ingin hadir dan menikmati rangkaian acara, kegiatan ini bukan sekadar hiburan semata. Ini adalah kesempatan emas untuk menyegarkan kembali ingatan akan akar budaya, mempererat tali persaudaraan antarmasyarakat, sekaligus mendorong semangat cinta tanah air melalui jalur seni dan budaya yang nyata dan terasa manfaatnya. Kebijakan acara yang dibuka secara gratis adalah bukti nyata bahwa budaya adalah milik semua orang, harus dinikmati, dipelajari, dan dijaga keberadaannya agar tidak hilang tergerus kemajuan zaman.

Dengan segala persiapan yang matang, dukungan penuh berbagai pihak, serta semangat kebersamaan yang tinggi dari seluruh warga dan panitia, acara Pentas Seni Budaya Wahyu Turonggo Putri di Desa Karang Banjar pada 12 Juli nanti diharapkan dapat berjalan lancar, khidmat, aman, dan penuh berkah. Semoga kegiatan serupa terus berlanjut menjadi tradisi tahunan yang makin besar, makin berwarna, dan makin meluas jangkauannya, meneguhkan kembali posisi budaya lokal sebagai identitas bangsa yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan dibanggakan oleh kita semua.


Info Acara:
📅 Hari/Tanggal: Minggu, 12 Juli
⏰ Waktu: 10.00 – 17.00 WIB
📍 Lokasi: Buper / Balai Desa Karang Banjar
🏢 Penyelenggara: Wahyu Turonggo Putri & Pemuda Karang Banjar (PEKA)
✅ Keterangan: Masuk Gratis & Terbuka untuk Seluruh Masyarakat

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama