Jejak Langkah Tiga Sahabat di Bulan Muharram
Pendakian Bersejarah Gunung Slamet Tahun 2001
🖊️ Warta Purbalingga | 📅 27 Oktober 2026
📖 Pendahuluan
Di bulan yang penuh berkah, bulan Muharram tahun 2001, tercatat sebuah perjalanan yang kelak menjadi awal dari sebuah nama besar yang dikenal hingga hari ini. Bukan pendakian yang mewah, bukan rombongan besar yang dipersiapkan lama, melainkan tekad bulat tiga sahabat yang berangkat dari kesederhanaan, membawa semangat baru di awal tahun hijriah.
Pendakian ini dilakukan oleh Saefudin Ar-Rizal, Bambang Purnomo, dan Sabarudin. Di bawah langit malam yang sejuk, bertolak dari jalur pendakian Bambangan pada pukul 20.15 WIB, mereka melangkah bukan sekadar untuk menaklukkan ketinggian, melainkan untuk merenungi kebesaran Tuhan di puncak tertinggi di Jawa Tengah. Pendakian inilah yang kelak diinisiasi oleh Buchil Pala — nama yang kemudian melahirkan nama besar Garga Astagina.
🌙 Malam Pertama: Langkah Awal dari Bambangan
Pukul 20.15, ketiganya melangkah melewati gerbang pendakian Bambangan. Udara malam terasa sejuk namun menyemangati. Berbeda dengan pendaki jaman sekarang yang sudah menggunakan perlengkapan modern, pada masa itu mereka belum mengenal kekayaan alat seperti sekarang. Untuk penerangan, mereka masing-masing hanya membawa senter sederhana hasil modifikasi dari korek api yang dipasangi lampu LED kecil.
Langkah kaki mereka terdengar di antara gemerisik dedaunan, menembus kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya minimalis dari senter korek api tersebut.
Setelah berjalan beberapa jam dan rasa lelah mulai mendera akibat beratnya perjalanan, mereka tiba di Pos 2 (Pondok Walang). Karena kondisi fisik yang sudah sangat capai dan waktu yang sudah larut malam, mereka memutuskan untuk beristirahat. Mereka mendirikan tenda seadanya dengan hanya memasang flysheet, menggunakan jas hujan sebagai alas tidur di atas tanah, lalu bergerak mengumpulkan kayu dan ranting kering untuk membuat perapian guna menghangatkan badan di tengah dinginnya malam Gunung Slamet.
🌅 Pagi yang Baru: Menembus Pos demi Pos
Tepat pukul 07.00 pagi, mereka bangun dan melanjutkan perjalanan. Semangat baru kembali membara. Satu per satu pos pendakian mereka lalui dengan sabar dan tekad yang tak tergoyahkan.
📍 Jejak Nama Pos yang Ditempuh (Jalur Bambangan)
- Pos 1: Pondok Bayeman — Batas ladang penduduk dan awal memasuki hutan
- Pos 2: Pondok Walang — Tempat bermalam (mendirikan flysheet, alas jas hujan, dan membuat perapian)
- Pos 3: Cemara Penggel — Medan jalan mulai semakin menanjak
- Pos 4: Samarantu — Mitos dan cerita lokal, hutan pegunungan semakin lebat
- Pos 5: Samyang Rangkah — Kabut dingin mulai menyelimuti area peristirahatan
- Pos 6: Samyang Ketemu — Udara dingin menembus tulang, rute kian terjal
- Pos 7: Samyang Kendit — Tempat beristirahat terakhir sebelum batas vegetasi dan puncak
- Pos 8: Pelawangan — Gerbang awal medan pasir dan bebatuan lereng puncak
- Pos 9: Puncak Surono — Titik tertinggi Gunung Slamet (3.428 mdpl)
Dari Pos 2 (Pondok Walang), langkah kaki terus naik menuju Pos 3 (Cemara Penggel), lalu ke Pos 4 (Samarantu), di mana medan mulai terasa semakin menanjak dan udara semakin dingin. Tak menyerah, mereka terus melangkah menembus kabut menuju Pos 5 (Samyang Rangkah), kemudian sampai di Pos 6 (Samyang Ketemu). Setiap langkah adalah perjuangan, setiap hentakan adalah bukti keteguhan hati. Hingga akhirnya mereka tiba di Pos 7 (Samyang Kendit) untuk bersiap menembus Pelawangan dan menuju Puncak Surono.
⛰️ Subuh di Ketinggian: Menuju Puncak Slamet
Ketika fajar menyingsing dan waktu Subuh tiba, ketiganya kembali melangkah. Diiringi udara pagi yang sangat dingin dan pemandangan matahari terbit yang luar biasa indah, mereka menempuh sisa perjalanan menuju puncak tertinggi.
Setelah berjuang menaklukkan lereng-lereng terakhir, tepat pada pukul 10.00 pagi, mereka sampai di Puncak Gunung Slamet — 3.428 mdpl. Di sana, di atas awan, di puncak Jawa Tengah, mereka berdiri bersama, bersyukur kepada Allah SWT atas selamat sampai di tujuan. Lautan awan terhampar di bawah kakinya, seolah-olah dunia terlihat begitu luas namun kecil di hadapan Sang Pencipta.
🏔️ Turun dengan Penuh Kenangan
Menikmati keindahan puncak tak bisa berlangsung selamanya. Sekitar pukul 11.30 WIB, mereka mulai menuruni puncak, menuju Batas Vegetasi. Di sinilah dimulainya perjalanan pulang, membawa cerita yang kelak tidak hanya menjadi kenangan pribadi, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang.
Dari perjalanan sederhana inilah lahir semangat yang kemudian mewujud menjadi nama Garga Astagina — sebuah nama yang bermakna dalam, lahir dari pendakian, lahir dari kebersamaan, lahir dari tekad yang tak pernah menyerah.
✅ Penutup
Perjalanan tiga sahabat di bulan Muharram tahun 2001 mengajarkan kita bahwa hal-hal besar selalu bermula dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan niat tulus. Gunung Slamet tetap berdiri gagah, namun jejak langkah Saefudin Ar-Rizal, Bambang Purnomo, dan Sabarudin akan selalu tercatat sebagai awal dari sebuah perjalanan panjang yang penuh makna.
Semoga cerita ini menginspirasi kita semua: bahwa dengan tekad, kebersamaan, dan doa, puncak tertinggi sekalipun dapat kita capai.
Baca Artikel Ini
Ditulis ulang oleh: Warta Purbalingga
Merawat Kenangan, Menginspirasi Generasi


