Hai, tidak semua orang yang jalannya pelan itu kalah. Kadang justru yang terlalu cepat yang paling duluan jatuh.
Orang Jawa punya ungkapan bijak ini: Seluman, selumun, selamat. Kalimat ini sering dipahami sebagai cara berjalan dengan hati-hati, tidak terburu-buru, tidak gegabah, supaya tetap selamat sampai tujuan.
Dan ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup di zaman yang semuanya serba cepat. Cepat sukses, cepat kaya, cepat punya rumah, cepat menikah, cepat viral, dan kelihatannya cepat berhasil. Di tengah hiruk-pikuk ini, banyak orang sebenarnya bukan lagi berjalan sesuai dengan kemampuannya, melainkan berlari hanya karena takut ketinggalan.
Masalahnya, keputusan yang terburu-buru sering lahir bukan dari kebijaksanaan, melainkan dari tekanan. Tekanan karena melihat orang lain sudah sampai duluan. Tekanan karena takut dianggap lambat. Tekanan karena merasa umur terus berjalan dan waktu terus berjalan.
Dalam ilmu pengambilan keputusan, semakin terburu-buru kita memutuskan, semakin menurun ketepatan keputusan tersebut. Karena otak tidak selalu punya cukup waktu untuk membaca dan memproses informasi dengan baik. Semakin cepat kita bergerak, semakin besar risiko kita salah langkah.
Jadi, pelan bukan berarti malas. Berhati-hati juga bukan berarti takut. Kadang orang yang terlihat lambat justru sedang memastikan langkahnya tidak salah arah. Kadang dia berhenti sejenak bukan karena menyerah, tapi karena ingin melihat jalan dengan lebih jelas sebelum melangkah lebih jauh.
Seluman, selumun, selamat. Tidak harus menjadi yang paling cepat. Yang penting jangan sampai karena mengejar cepat, kita justru kehilangan arah. Jangan sampai karena ingin cepat sampai, kita lupa siapa sebenarnya diri kita ini.
Baca Artikel Ini
Jadi, yuk bergerak — dengan tenang, pasti, dan selamat. ✨
