Turun ke Lumpur Tanpa Protokol, Patih Padepokan Garga Astagina Dirikan Dapur Umum untuk Warga Desa Sima Moga
RUANG WARTA | Pemalang —
Di tengah kondisi darurat dan medan berat pascabencana, sosok Patih Padepokan Garga Astagina yang juga dikenal sebagai senior PMR (Pemalang Mountain Rescue) turun langsung ke lokasi terdampak di Desa Sima, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. Tanpa jarak dan tanpa seremoni, ia memimpin pendirian posko dapur umum demi memastikan kebutuhan pangan warga tetap terpenuhi.
Aksi kemanusiaan ini menyita perhatian warga setempat. Di saat sebagian besar aktivitas lumpuh akibat bencana, kehadiran Patih Garga Astagina bersama relawan PMR menjadi suntikan semangat dan harapan baru bagi masyarakat Desa Sima.
Patih Padepokan Garga Astagina
Sejak pagi hari, Patih dan tim relawan terlihat berjibaku dengan lumpur, hujan, serta keterbatasan sarana. Mereka mendirikan tenda darurat, menyiapkan peralatan memasak, hingga mengatur alur distribusi makanan. Semua dilakukan secara gotong royong, cepat, dan terorganisir.
Kepemimpinan yang Turun Langsung ke Lapangan
Patih Padepokan Garga Astagina menegaskan bahwa turun langsung ke lokasi bencana adalah bagian dari nilai luhur padepokan yang menjunjung tinggi pengabdian dan kemanusiaan. Menurutnya, dalam situasi darurat, kehadiran nyata jauh lebih penting daripada sekadar pernyataan empati.
“Ketika masyarakat kesulitan memasak dan akses logistik terhambat, dapur umum menjadi kebutuhan paling mendesak. Perut lapar tidak bisa menunggu,” ujar Patih saat ditemui di lokasi posko.
Sebagai senior PMR, ia juga memastikan seluruh relawan bekerja sesuai standar keselamatan. Pembagian tugas dilakukan secara sistematis, mulai dari tim dapur, logistik, distribusi, hingga pemantauan kondisi lapangan.
Dapur Umum Jadi Titik Sentral Harapan Warga
Posko dapur umum yang didirikan di Desa Sima kini menjadi pusat aktivitas kemanusiaan. Setiap hari, ratusan porsi makanan hangat disiapkan dan dibagikan kepada warga terdampak, terutama anak-anak, lansia, dan keluarga yang dapurnya tidak lagi bisa digunakan.
Asap dari tungku dapur bukan sekadar tanda aktivitas memasak, melainkan simbol bahwa warga tidak sendirian menghadapi musibah. Kehadiran relawan yang memasak, mengemas, dan mengantar makanan langsung ke warga menumbuhkan rasa aman dan kebersamaan.
Salah satu warga Desa Sima mengaku terharu. “Kami sangat terbantu. Beliau bukan hanya memberi arahan, tapi ikut masak dan terjun langsung. Ini jarang terjadi,” ungkapnya.
Kolaborasi Relawan dan Warga Lokal
Kegiatan dapur umum ini juga melibatkan partisipasi aktif warga setempat. Para ibu membantu memasak, sementara pemuda desa turut serta dalam pengangkutan logistik dan distribusi makanan. Kolaborasi ini mempercepat pelayanan sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Menurut Patih, keterlibatan warga merupakan kunci pemulihan pascabencana. “Relawan hanya memantik. Kekuatan utama tetap ada pada masyarakat itu sendiri,” tegasnya.
Medan Berat, Semangat Tak Pernah Surut
Cuaca yang tidak menentu dan medan berlumpur menjadi tantangan utama di lapangan. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat relawan PMR dan tim dapur umum. Dengan perlengkapan seadanya, mereka tetap memastikan posko dapur umum beroperasi tanpa henti.
Selain fokus pada dapur umum, Patih juga melakukan pemetaan kondisi wilayah dan memberikan edukasi mitigasi sederhana kepada warga guna mengantisipasi potensi bencana susulan.
Ajakan Kepedulian untuk Pemulihan Desa Sima
Patih Padepokan Garga Astagina berharap kepedulian tidak berhenti pada satu aksi. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas, dan pihak terkait untuk bersama-sama membantu pemulihan Desa Sima, baik melalui dukungan logistik, tenaga, maupun doa.
“Bencana bisa menimpa siapa saja. Hari ini mereka, esok bisa kita. Maka kemanusiaan harus selalu hadir,” pungkasnya.
Aksi nyata Patih Padepokan Garga Astagina dan PMR di Desa Sima menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang jabatan, melainkan keberanian untuk turun ke lumpur dan berdiri bersama rakyat di saat paling sulit.
Kontributor:Senoo Pratama
