Nguri-Nguri Budaya Jawa, Ruwat Bumi dan Wayang Kulit Digelar di Desa Karangbanjar
Informasi Tanggal

TANGGAL HARI INI

Sabtu

Wage

Tanggal Masehi

2 Mei 2026

Tanggal Hijriyah

18 Dzulqaidah 1447 H

"Waktu adalah anugerah, gunakan dengan sebaik-baiknya"

Nguri-Nguri Budaya Jawa, Ruwat Bumi dan Wayang Kulit Digelar di Desa Karangbanjar


Dalang gendro


Ruwat Bumi dan Wayang Kulit Semalam Suntuk, Warga Desa Karangbanjar Purbalingga Lestarikan Budaya Jawa Karangbanjar, Purbalingga – Tradisi Ruwat Bumi yang dirangkaikan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.


(Nguri-uri Kabudayan Bersama BAMBANG PURNOMO Sekaligus sebagai Pengurus PANI
PASUKAN ADAT NUSANTARA INDONESIA TAHUN 2025-2030)
sebagai bukti nguri uri kabudayan Kususe kabupaten Purbalingga.

Kembali digelar oleh masyarakat Di desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, pada Rabu, 17 Juli 2024.  budaya ini menjadi wujud nyata komitmen warga dalam melestarikan adat istiadat Jawa sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga desa.

 Ruwat Bumi merupakan tradisi turun-temurun yang sarat nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, keselamatan, serta hasil panen yang melimpah. Selain itu, Ruwat Bumi juga menjadi sarana doa bersama agar masyarakat Desa Karangbanjar dijauhkan dari berbagai musibah, seperti gagal panen, serangan hama, maupun kesulitan ekonomi. Prosesi Ruwat Bumi dimulai pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB dan dipusatkan di Lapangan Desa Karangbanjar. Acara diawali dengan pembacaan doa dan kidung ruwatan yang mengandung makna permohonan keselamatan dan keberkahan. Suasana khidmat terasa saat warga dari berbagai dusun secara bergantian membawa gunungan hasil bumi menuju lokasi acara. Gunungan tersebut berisi aneka hasil pertanian seperti padi, sayuran, buah-buahan, serta hasil kebun lainnya. Selain gunungan, warga juga membawa tumpeng dan jajanan tradisional sebagai simbol kemakmuran dan kebersamaan. 

Hasil karya warga RT02/RW01
Kadus 1

Tradisi ini menjadi gambaran kuatnya nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang masih terjaga di tengah kehidupan masyarakat desa. Kepala Desa Karangbanjar dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Ruwat Bumi sebenarnya telah direncanakan sejak tahun 2023. Namun, berkat dukungan dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, kegiatan tersebut baru dapat terlaksana secara maksimal pada tahun 2024. Ia menegaskan bahwa Ruwat Bumi bukan sekadar acara seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat persatuan dan melestarikan warisan budaya leluhur. Usai doa bersama, masyarakat pun berbondong-bondong berebut gunungan hasil bumi. 


Tradisi rebutan gunungan ini diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya. Suasana penuh kegembiraan dan keakraban tampak jelas, mencerminkan hubungan sosial yang harmonis antarwarga Desa Karangbanjar. Memasuki malam hari, sekitar pukul 19.30 WIB, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran ini menghadirkan dalang kondang Ki Gendronyono dengan membawakan lakon “Semar Mbangun Kahyangan”. Pertunjukan tersebut disambut antusias oleh masyarakat yang memadati area lapangan desa hingga larut malam. Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Kepala Desa Karangbanjar, Ketua DPRD Kabupaten Purbalingga, serta Bupati Purbalingga.


 Kehadiran para pejabat daerah ini menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang dilakukan oleh masyarakat desa. Sebelum pagelaran dimulai, dilakukan prosesi simbolis penyerahan wayang gunungan dari Kepala Desa Karangbanjar kepada Ki Dalang. Prosesi ini menandai dimulainya pertunjukan wayang kulit secara resmi dan disambut tepuk tangan meriah dari para penonton. Lakon “Semar Mbangun Kahyangan” mengandung pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. 



Melalui tokoh Semar, penonton diajak untuk memahami pentingnya nilai kepemimpinan yang adil, jujur, dan berpihak kepada rakyat kecil. Nilai-nilai filosofi Jawa disampaikan secara halus melalui dialog dan alur cerita yang sarat makna. Pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda. Melalui pertunjukan ini, diharapkan generasi penerus dapat mengenal, memahami, dan mencintai budaya Jawa sebagai bagian dari identitas bangsa. Masyarakat Desa Karangbanjar berharap kegiatan Ruwat Bumi dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dapat menjadi agenda budaya tahunan. Selain menjaga kelestarian budaya Jawa, kegiatan ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Desa Karangbanjar membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Semangat kebersamaan, rasa syukur, serta kecintaan terhadap budaya lokal menjadi fondasi kuat dalam menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Ibu Rohyati Lamun"Berharap semoga bisa di adakan setiap Tahun"





Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama