Integrated Farming sebagai solusi aplikatif untuk Ketahanan Pangan
Informasi Tanggal

TANGGAL HARI INI

Sabtu

Wage

Tanggal Masehi

2 Mei 2026

Tanggal Hijriyah

18 Dzulqaidah 1447 H

"Waktu adalah anugerah, gunakan dengan sebaik-baiknya"

Integrated Farming sebagai solusi aplikatif untuk Ketahanan Pangan

1000 ekor Burung Puyuh90% .bertelur

Integrated Farming: Sinergi Budidaya Magot, Burung Puyuh, dan Pembesaran Ikan Lele sebagai Pilar Ketahanan Pangan Lokal Konsep integrated farming atau pertanian terpadu semakin relevan di tengah tantangan ketahanan pangan, keterbatasan lahan, dan meningkatnya biaya produksi.                                    Sistem ini menekankan keterpaduan antarunit usaha, sehingga limbah dari satu sektor dapat dimanfaatkan sebagai input sektor lainnya. Inilah yang menjadi inti materi pelatihan yang disampaikan oleh Ali Susilo, narasumber sekaligus trainer, alumni SMA Bobotsari angkatan 1995, dalam acara Juguran Alumni 95 yang digelar di Desa Karangcegak, Kabupaten Purbalingga. Ali Susilo dikenal sebagai sosok yang mampu menghadirkan terobosan nyata di lingkungannya melalui praktik ketahanan pangan berbasis komunitas. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa integrated farming bukan sekadar konsep, melainkan solusi aplikatif yang dapat dijalankan oleh keluarga, kelompok, hingga desa dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tepat. Magot BSF: Solusi Limbah dan Sumber Protein Salah satu pilar utama dalam sistem ini adalah budidaya magot Black Soldier Fly (BSF). Menurut Ali Susilo, magot memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai limbah organik rumah tangga, pasar, dan sisa pertanian. Dalam waktu singkat, limbah tersebut dapat dikonversi menjadi biomassa bernilai tinggi berupa magot yang kaya protein. “Magot adalah mesin protein alami. Dari limbah yang sering dianggap masalah, kita justru memperoleh pakan berkualitas tinggi,” jelas Ali. Magot BSF dapat dimanfaatkan sebagai pakan utama atau campuran untuk ikan lele dan burung puyuh, sehingga menekan biaya pakan yang selama ini menjadi beban terbesar dalam budidaya. Selain magot, residu penguraian atau kasgot juga memiliki nilai sebagai pupuk organik untuk tanaman, sehingga siklus produksi menjadi semakin efisien dan ramah lingkungan. Burung Puyuh: Produksi Cepat dan Stabil Unit kedua dalam sistem integrated farming ini adalah budidaya burung puyuh. Ali Susilo menjelaskan bahwa puyuh memiliki siklus produksi yang cepat, relatif mudah dipelihara, dan mampu menghasilkan telur setiap hari. Telur puyuh menjadi sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat, sekaligus memiliki nilai ekonomi yang stabil. Dalam sistem terpadu, pakan puyuh dapat diformulasikan dengan campuran magot kering atau tepung magot. Hasilnya, biaya pakan menurun tanpa mengurangi produktivitas. Kotoran puyuh pun tidak terbuang percuma, karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos atau media fermentasi lanjutan. “Kalau dikelola dengan SOP yang benar, puyuh bukan hanya cepat panen, tetapi juga cepat balik modal,” tambah Ali di hadapan para alumni yang antusias mengikuti sesi diskusi. Ikan Lele: Adaptif dan Bernilai Ekonomis Sektor ketiga yang melengkapi sistem ini adalah pembesaran ikan lele. Lele dipilih karena sifatnya yang adaptif, tahan terhadap fluktuasi lingkungan, dan memiliki permintaan pasar yang tinggi. Dalam konsep integrated farming, pakan lele dapat dikombinasikan dengan magot segar maupun kering, sehingga menekan ketergantungan pada pakan pabrikan.   Ali Susilo menekankan pentingnya manajemen kualitas air, kepadatan tebar, serta jadwal pemberian pakan sesuai SOP.                                                                    Dengan penerapan yang disiplin, pembesaran lele dapat berlangsung efisien dan menghasilkan panen optimal dalam waktu relatif singkat. “Lele ini cocok untuk pemula. Kalau terintegrasi dengan magot, margin keuntungannya bisa jauh lebih baik,” ujarnya. SOP sebagai Kunci Keberhasilan Dalam seluruh pemaparannya, Ali Susilo berulang kali menegaskan bahwa SOP adalah kunci keberhasilan. Tanpa SOP yang jelas, sistem terpadu berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti bau, penyakit, atau ketidakseimbangan produksi. SOP yang disampaikan mencakup: Manajemen limbah organik untuk budidaya magot. Formulasi pakan berbasis magot untuk puyuh dan lele. Kebersihan kandang dan kolam untuk mencegah penyakit. Pencatatan produksi agar usaha dapat dievaluasi dan dikembangkan. Dengan pendekatan ini, integrated farming tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang. Semangat Alumni dan Ketahanan Pangan Lokal Acara Juguran Alumni 95 menjadi ruang berbagi yang sarat makna. Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ajang transfer pengetahuan yang aplikatif bagi masyarakat sekitar. Kehadiran Ali Susilo sebagai alumni yang sukses berinovasi memberikan inspirasi bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Dalam sesi motivasi, Ali Susilo menyampaikan pesan yang menggugah semangat para peserta, “Jangan menyerah, selama darah masih merah, pandanglah ke depan menuju Purbalingga Emas.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang mental pantang menyerah dan keberanian berinovasi. Penutup: Bekal Dunia dan Akhirat Di akhir acara, Imam Supriyadi menyampaikan harapan agar pertemuan dan pelatihan ini membawa manfaat luas. Ia menegaskan bahwa karya nyata di bidang ketahanan pangan adalah bentuk kontribusi yang bernilai ibadah. “Semoga pertemuan ini memberikan manfaat, berkarya untuk keluarga, bangsa, dan negara, serta menjadi bekal ke akhirat,” tutur Imam Supriyadi dalam penutupan Juguran Alumni tersebut. Melalui konsep integrated farming antara budidaya magot, burung puyuh, dan pembesaran ikan lele, Desa Karangcegak menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari bawah—berbasis komunitas, berorientasi lingkungan, dan digerakkan oleh semangat kebersamaan. Inilah langkah kecil yang bermakna besar menuju Purbalingga Emas.                  





Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama