Purbalingga - Kemeriahan luar biasa menyelimuti Desa Prigi, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga. Ribuan warga tumpah ruah memadati lapangan desa dalam rangka menggelar acara tahunan Kirab Budaya Sedekah Bumi. Istimewanya, gelaran kali ini terasa jauh lebih sakral dengan hadirnya Pasukan Adat Nusantara Indonesia (PANI) sebagai tamu undangan kehormatan sekaligus pemangku adat.
Atmosfer budaya begitu kental terasa di lokasi. Dua gunungan raksasa yang terbuat dari hasil bumi—mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, hingga tumpukan palawija—berdiri megah menjadi pusat perhatian warga yang datang dari berbagai penjuru untuk menyaksikan prosesi adat ini secara langsung.
Acara yang mengusung tema "Guyub Rukun" ini sukses menarik perhatian massa dalam skala besar. Tidak tanggung-tanggung, diperkirakan sekitar 3.500 warga memadati area utama sejak pagi hari dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi.
Ketua panitia menyampaikan bahwa lonjakan drastis jumlah pengunjung tahun ini dimotori oleh kekompakan luar biasa dari berbagai elemen masyarakat. Khususnya perwakilan dari kluster warga RT 01, RT 03, dan RW 01 yang menjadi pilar utama penggerak jalannya kirab dari hari ke hari.
Perayaan Sedekah Bumi Desa Prigi kali ini tidak sekadar ritual satu hari selesai. Pihak panitia telah menyusun rangkaian acara maraton terstruktur yang memanjakan mata serta spiritual penonton:
Ada yang berbeda pada pelaksanaan sedekah bumi tahun ini. Kehadiran perwakilan Pasukan Adat Nusantara Indonesia sebagai pemangku adat Kabupaten Purbalingga memberikan warna baru yang jauh lebih khidmat dan berwibawa.
Pakaian adat serba hitam dan atribut khasnya, kehadiran mereka menegaskan bahwa Desa Prigi berkomitmen kuat menjaga kelestarian budaya Jawa di tengah gempuran modernisasi zaman.
"Ini bukan sekadar rutinitas, tapi wujud syukur kami kepada Sang Pencipta atas limpahan hasil bumi. Kehadiran para pemangku adat nusantara membuat kami, warga RT 01, RT 03, dan RW 01, semakin bangga akan identitas budaya kami," ujar salah satu warga di lokasi.
Acara kemudian ditutup dengan doa lintas tokoh agama agar Desa Prigi selalu diberikan kemakmuran, dijauhkan dari marabahaya, dan warganya tetap memegang teguh prinsip Guyub Rukun.


