![]() |
| Sumber Gambar,FB |
Kerajaan Galuh Purba adalah salah satu peradaban tertua yang tumbuh subur di tanah Jawa, tepatnya di kawasan lereng Gunung Slamet. Bagi warga Purbalingga dan sekitarnya, nama ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan akar sejarah yang menjadi bagian dari identitas daerah sejak ribuan tahun silam.
Gunung Slamet: Sumber Kehidupan dan Latar Sejarah
Gunung Slamet berdiri megah sebagai gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, dengan ketinggian mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut. Dahulu, masyarakat menyebutnya juga dengan nama Gunung Ghora atau Gunung Agung, sebutan yang menunjukkan betapa dihormatinya gunung ini sejak zaman dahulu.
Selain menjadi pemandangan alam yang menakjubkan, aktivitas vulkaniknya yang teratur justru memberikan keberkahan: tanah di sekitarnya menjadi sangat subur. Meskipun berpotensi meletus, manusia tetap memilih tinggal dan membangun peradaban di lerengnya selama ribuan tahun, karena gunung ini menyediakan air, tanah, dan sumber daya alam yang melimpah.
Bagi masyarakat masa itu, Gunung Slamet juga dianggap keramat. Banyak yang memanjatkan doa dan harapan agar diberi keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan hidup. Keyakinan ini menjadi dasar keharmonisan antara manusia dan alam yang terus dijaga nilainya hingga kini.
Asal Mula Kerajaan Galuh Purba
Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis oleh W.J. van der Meulen dalam bukunya Indonesia di Ambang Sejarah (1988), wilayah yang kini dikenal sebagai Purbalingga dan sekitarnya telah menjadi pusat peradaban sejak abad ke-1 Masehi.
Kerajaan Galuh Purba tumbuh dan berkembang di lereng selatan Gunung Slamet, menjadikannya induk dari kerajaan-kerajaan besar lainnya yang lahir kemudian di tanah Jawa. Nama “Galuh” sendiri memiliki makna yang indah, yaitu tempat yang damai, subur, dan penuh kedamaian—sesuai dengan kondisi alamnya yang mendukung kehidupan masyarakat.
Awalnya, kawasan ini hanya dihuni oleh kelompok-kelompok kecil yang hidup berpindah-pindah. Seiring waktu, mereka mulai menetap, membangun tempat tinggal, lalu berkumpul menjadi kampung, desa, hingga akhirnya terbentuklah sebuah pemerintahan yang teratur dan kuat.
Wilayah Kekuasaan dan Pengaruhnya
Menurut penelitian sejarah, wilayah kekuasaan Galuh Purba sangat luas, membentang hingga radius sekitar 6 kilometer dari pusat kerajaannya. Kawasan ini meliputi daerah yang kini kita kenal sebagai Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kedu, hingga Kebumen.
Artinya, Purbalingga saat ini adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah kerajaan tertua ini. Dari sinilah kemudian lahir berbagai sistem pemerintahan, adat istiadat, dan budaya yang menjadi cikal bakal tata kehidupan masyarakat di Jawa Tengah bagian barat hingga sekarang.
Kesimpulan: Jejak Leluhur untuk Masa Kini
Jejak Kerajaan Galuh Purba mengajarkan kita bahwa tanah Purbalingga bukanlah daerah baru yang terbentuk begitu saja. Ia adalah tempat yang telah dihuni, dibangun, dan dikelola oleh nenek moyang kita sejak lebih dari 2.000 tahun yang lalu.
Mengetahui sejarah ini membuat kita lebih menghargai warisan leluhur, menjaga kelestarian alam Gunung Slamet, dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Kisah ini juga menjadi bukti bahwa kemajuan sebuah daerah selalu berakar dari peradaban yang kuat di masa lalu.
W.J. van der Meulen SJ. Indonesia di Ambang Sejarah. Jakarta: Gramedia, 1988.
