WARTA PURBALINGGA

Portal Berita Terkini Purbalingga dan Sekitarnya

HOME PANI PRIMBON 2026 BERITA BENCANA WISATA AGAMA PURBALINGGA DAERAH

Perdikan Cahyana (Pusat Penyebaran Agama Islam di Bumi Perwira)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas terselesaikan dan terbitnya buku Perdikan Cahyana : Pusat Penyebaran Agama Islam di Bumi Perwira. Buku ini adalah hasil kegiatan dari Bidang Pembinaan Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga. Penulisan buku dibiayai melalui APBD Kabupaten Purbalingga sebagaimana tercantum dalam DPPA Nomor 22.04.2.01 Tahun Anggaran 2021 Program Pembinaan Sejarah Lokal.

Tujuan kami mencetak buku ini adalah sebagai salah satu upaya untuk mendokumentasikan sejarah-sejarah lokal yang ada di Kabupaten Purbalingga. Sebab, kabupaten yang dikenal dengan ‘Bumi Perwira’ ternyata cukup kaya cerita sejarah dari masa ke masa.

Buku ini memfokuskan tentang Perdikan Cahyana, sebuah pusat penyebaran agama Islam yang pengaruhnya tidak hanya di wilayah Kabupaten Purbalingga, akan tetapi juga wilayah sekitarnya.

PERDIKAN CAHYANA
Pusat Penyebaran Agama Islam di Bumi Perwira
| iii

Tak ada gading yang tak retak. Sekalipun telah diupayakan secara maksimal, baik isi maupun tampilan, namun tentu saja masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami nantikan untuk perbaikan ke depan.

Selamat membaca.

Purbalingga, 10 November 2021



Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan



Drs. Gunawae Setyadi, SH, MH

| iv
Agus Sukoco & Gunanto Eko Saputro

SEKAPUR SIRIH

Ketika Kerajaan Majapahit sebagai representasi dari kejayaan peradaban nusantara yang berbasis pada nilai Hindu-Budha redup, Islam mendapat peluang untuk memasuki ruang sosial politik. Dewan Ulama atau para tokoh Islam yang tergabung dalam Majelis Wali Sanga mencoba merespon tragedi politik bangsa nusantara dengan melakukan ijtihad politik melalui gagasan kasultanan.

Ide ini tidak serta merta diterima oleh para penggedhe Majapahit. Raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V yang didampingi oleh para penasihatnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong dengan tegas menolak pemikiran para tokoh Islam.

Kesediaan raja terakhir Majapahit untuk membuka gerbang masuknya pemikiran Islam dalam dinamika politik nusantara. Sebagai langkah awal upaya negosiasi politik Wali Sanga, diangkatlah Raden Patah sebagai Sultan Demak pertama.

Kekuasaan Islam pertama di Jawa itu berkembang pesat dan sedikit demi sedikit membawa kejayaan Nusantara kembali. Salah satunya kharisma tokoh Islam dari daerah Cahyana yang bernama Syekh Wali Perkasa.

| vii
Agus Sukoco & Gunanto Eko Saputro

Konon, jasa besar wali dari Cahyana yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Purbalingga itu adalah membuat saka tatal dan menentukan arah kiblat Masjid Agung Demak.

Hak istimewa yang diberikan Kesultanan Demak membuat pengaruh Cahyana meluas ke berbagai wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

Selain itu, Cahyana juga ternyata sudah eksis sebelum era Perdikan Wali Sanga. Hal ini membuktikan bahwa Cahyana merupakan pusat penyebaran Agama Islam yang penting di Pulau Jawa.

Buku yang ada di tangan Anda ini tersusun atas kerjasama dan kontribusi berbagai pihak. Kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua yang telah membantu hingga terbitnya buku ini.

| viii
Agus Sukoco & Gunanto Eko Saputro

SUNAN BONANG

Nama aslinya adalah Makdum Ibrahim. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam.

SUNAN DRAJAT

Nama aslinya Raden Qasim. Sunan Drajat terkenal dengan kegiatan sosial dan kepeduliannya terhadap masyarakat kecil.

SUNAN GIRI

Nama kecilnya Raden Paku. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik yang berpengaruh hingga Maluku.

SUNAN KALIJAGA

Nama kecilnya Raden Mas Sahid. Ia menggunakan wayang kulit, suluk dan budaya Jawa sebagai media dakwah Islam.

SUNAN MURIA

Nama aslinya Raden Umar Said. Ia berdakwah di pedesaan dan lereng Gunung Muria.

SUNAN GUNUNG JATI

Nama aslinya Syarif Hidayatullah. Ia mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah Islam dan pemerintahan.

| 10
Agus Sukoco & Gunanto Eko Saputro

CAHYANA, PUSAT PENYEBARAN AGAMA ISLAM PRA WALI SANGA

Terkait penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa ada informasi menarik yang tak banyak dikenal oleh masyarakat luas, yaitu di tenggara Gunung Slamet atau yang pada era pra Islam dikenal dengan sebutan Gunung Ghora atau Gunung Agung terdapat pusat penyebaran Agama Islam yang cukup besar dan berpengaruh, yaitu Cahyana.

"Tokoh yang dikenal sebagai cikal bakal Cahyana bernama Syekh Jambu Karang dan Syekh Atas Angin. Mereka sudah berkiprah sejak abad ke-12, jauh sebelum era Wali Sanga.

Dua mubaligh tersebut tidak hanya berhasil menyebarkan Agama Islam di sekitar Cahyana, tetapi juga ke berbagai daerah lainnya. Keturunan dan santri-santri Cahyana kemudian turut menyebarkan Islam ke berbagai wilayah Nusantara".

Selain sembilan wali yang terkenal, terdapat tokoh pendahulu penyebar Islam yang datang jauh sebelum Maulana Ahmad Jumadil Kubra, yaitu Syekh Jumadil Kubra.

PERDIKAN CAHYANA
Pusat Penyebaran Agama Islam di Bumi Perwira

PURBALINGGA – Kabupaten Purbalingga yang dikenal dengan sebutan “Bumi Perwira” menyimpan warisan sejarah yang sangat berharga, yaitu Perdikan Cahyana. Kawasan ini diakui sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam yang paling awal di Pulau Jawa, bahkan sudah berkembang jauh sebelum dakwah Wali Sanga pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Terletak di wilayah yang kini meliputi Kecamatan Karangmoncol dan Rembang, Cahyana menjadi saksi bisu perjalanan masuknya ajaran Islam yang dibawa oleh dua tokoh utama: Syekh Jambu Karang dan Syekh Atas Angin, yang diperkirakan aktif berdakwah sejak abad ke-12 Masehi. Keberadaan kawasan ini menjadi bukti nyata bahwa Purbalingga memiliki peran strategis dalam membentuk peradaban Islam di Nusantara.

Cikal Bakal Berdirinya Perdikan Cahyana

Eksistensi Perdikan Cahyana tidak dapat dilepaskan dari kiprah dua tokoh pendirinya, yang kisahnya hidup dalam perpaduan antara mitos, tradisi lisan, dan catatan sejarah. Syekh Jambu Karang lahir dengan nama Raden Munding Wangi, putra raja Kerajaan Pajajaran. Ia memilih meninggalkan kehidupan mewah di istana dan menyerahkan hak tahta kepada adiknya, Raden Munding Sari, untuk menjalani hidup sebagai pertapa dan mencari kesempurnaan hidup. Ia kemudian bertapa di wilayah bernama Jambu Karang di Banten.

Dalam perjalanan batinnya, Raden Munding Wangi melihat cahaya putih menjulang tinggi ke langit di arah timur, yang ia anggap sebagai petunjuk ilahi. Ia pun berkelana menembus hutan, sungai, dan ngarai hingga tiba di Gunung Panungkulan, tempat sumber cahaya tersebut berada. Di tempat yang sama, seorang mubaligh dari Tanah Arab bernama Syekh Atas Angin juga melihat cahaya yang sama usai menunaikan shalat Subuh, lalu berangkat mencari sumbernya hingga tiba di lokasi yang sama.

Ketika keduanya bertemu, mereka sepakat menguji keilmuan dan kesaktian. Raden Munding Wangi akhirnya mengakui kehebatan Syekh Atas Angin dan memeluk agama Islam yang dibawanya. Sebagai tanda persahabatan dan penguatan dakwah, Syekh Jambu Karang menikahkan putrinya, Rubiyah Bekti, kepada Syekh Atas Angin. Keturunan dari pernikahan inilah yang kemudian melanjutkan perjuangan menyebarkan Islam di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Cahyana Karabal Minal Muslimin, dan akhirnya dianugerahi status istimewa Perdikan oleh Kesultanan Demak.

Bukti Sejarah dan Catatan Para Ahli

Kisah Cahyana tidak hanya hidup dalam cerita rakyat, tetapi juga tercatat dalam berbagai dokumen sejarah. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Sir Thomas Stamford Raffles, dalam karyanya yang terkenal History of Java mencatat peristiwa sekitar tahun 1112 Masehi. Ia menuliskan bahwa Raja Pajajaran memiliki dua putra, di mana anak sulungnya yang enggan tinggal di istana kemudian kembali dengan nama Haji Purwa bersama seorang ulama keturunan Sayyid Abbas dari Arab. Sosok Haji Purwa ini diyakini identik dengan Raden Munding Wangi atau Syekh Jambu Karang.

Penelitian Profesor Sugeng Priyadi dari Universitas Gajah Mada dalam jurnal tahun 2001 juga menguatkan hal ini, merujuk pada naskah kuno Cariyosipun Redi Munggul yang berisi:

“Punika Cariyosipun Redi Munggul Satengahing Nusa Jawi Wektu Medal Cahya Pethak Umancur Sundhul ing Ngawiyat Ngawontenaken Pepundhen ing Cahyana”

Teks tersebut menegaskan bahwa Cahyana adalah tempat munculnya cahaya kebenaran di tengah Pulau Jawa. Sejarawan Ahmad Soetjipto juga menjelaskan bahwa setelah memeluk Islam dan menunaikan ibadah haji, Syekh Jambu Karang dikenal dengan sebutan Haji Purwa, yang berarti orang Jawa pertama yang melaksanakan ibadah haji.

Versi dan Penamaan Tokoh yang Beragam

Dalam berbagai sumber sejarah, terdapat variasi nama dan detail kisah. Dalam naskah Sunda Mangle Arum disebutkan bahwa seorang bangsawan Arab bernama Syarif Abdurrahman Al-Qadri datang ke lereng Gunung Slamet, mengislamkan penduduk dan raja setempat, kemudian berganti nama menjadi Pangeran Atas Angin. Sumber lain seperti karya A.M. Kartosoedirjo menyebut nama tokoh tersebut sebagai Raden Liman Sujana atau Syekh Wali Rakhmat. Meskipun ada perbedaan nama, inti ceritanya tetap sama: kedatangan ulama dari Arab, pertobatan pangeran lokal, dan berdirinya pusat dakwah Islam.

Warisan Cahyana untuk Masa Kini

Perdikan Cahyana membuktikan bahwa penyebaran Islam di Jawa tidak hanya berpusat di pesisir utara, tetapi juga telah tumbuh subur di wilayah pedalaman seperti Purbalingga jauh lebih awal. Status perdikan yang diberikan Kesultanan Demak memberikan kebebasan bagi masyarakatnya untuk mengembangkan ilmu agama dan budaya, pengaruhnya menjangkau hingga Banyumas, Banjarnegara, Cilacap, Pekalongan, bahkan hingga Cirebon dan Karimunjawa.

Hingga kini, warisan sejarah ini menjadi kebanggaan masyarakat Purbalingga. Melalui dokumentasi dan penelitian yang terus dilakukan, generasi muda dapat memahami akar peradaban daerahnya, serta meneladani nilai toleransi dan keilmuan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Perdikan Cahyana bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan bukti nyata bahwa Purbalingga memiliki andil besar dalam perjalanan agama dan budaya di Nusantara.

Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat Cahyana yang diwawancarai oleh Ervita, Raden Munding Wangi mula-mula bersemadi di bawah pohon jambu di Bukit Karang, wilayah Banten. Dari tempat itulah ia kemudian bergelar Pangeran Jambu Karang. Dalam masa semadi tersebut, ia mendapat penglihatan berupa tiga cahaya putih yang menjulang tinggi ke arah timur. Merasa itu sebagai petunjuk, ia pun menelusuri asal cahaya tersebut hingga akhirnya tiba di Gunung Panungkulan. Dari peristiwa inilah lahir nama “Cahyana”, yang dalam bahasa Jawa berarti cahya ana atau “ada cahaya”.

Petilasan Bukit Cahyana (Desa Grantung, Kec. Karangmoncol), Tempat Bertemunya Pangeran Munding Wangi dan Syekh Atas Angin (Dok: Tim Penulis / Okta Prihastono)

Saat ini lokasi tersebut dikenal dengan nama Gunung atau Bukit Cahyana, yang masuk wilayah Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. Di puncak bukit ini terdapat kompleks petilasan yang dipercaya sebagai tempat pertemuan Raden Munding Wangi dan Syekh Atas Angin. Di dalamnya berdiri Masjid Saka Tunggal, yang menurut kepercayaan masyarakat dibangun langsung oleh kedua tokoh tersebut sebagai tempat ibadah pertama. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi alasan penamaan wilayah tersebut sebagai Cahyana.

Di waktu yang hampir bersamaan, seorang ulama dari Negeri Arab juga mendapat ilham yang sama usai menunaikan shalat Subuh, yaitu melihat tiga cahaya terang di arah timur. Ia pun berlayar dan berkelana hingga tiba di lokasi yang sama. Sesampainya di sana, ia memberi salam sebanyak tiga kali namun tidak mendapat jawaban, sehingga ia menyadari bahwa pertapa yang ada di sana belum memeluk agama Islam. Merasa terganggu, Raden Munding Wangi kemudian menantang adu kesaktian dengan perjanjian: siapa yang kalah harus tunduk dan mengikuti ajaran yang dimenangkan.

Adu kesaktian yang dilakukan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, adu kecepatan mengelilingi Gunung Ghora (sekarang dikenal sebagai Gunung Slamet), yang dimenangkan oleh Syekh Atas Angin. Kedua, Raden Munding Wangi menyusun telur satu per satu hingga setinggi langit, namun Syekh Atas Angin dapat mengambilnya satu per satu tanpa membuatnya jatuh, hanya menyisakan satu butir di puncak. Ketiga, udeng atau ikat kepala Raden Munding Wangi yang diterbangkan dapat digulung rapi oleh sorban milik Syekh Atas Angin.

Setelah kalah dalam tiga pertandingan tersebut, Raden Munding Wangi mengakui kekalahannya dan bersedia memeluk agama Islam. Ia dibaiat serta menerima pelajaran agama di Gunung Kraton, kemudian melakukan khalwat atau menyendiri beribadah di puncak Gunung Mandala Giri. Gunung ini kemudian berganti nama menjadi Ardi Lawet: “Ardi” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti gunung, sedangkan “Lawet” merupakan penyederhanaan dari kata khalwat. Sementara itu, nama Gunung Kraton diambil dari kata “ratu”, karena di tempat inilah Raden Munding Wangi diangkat derajatnya. Konon, sebelum dibaiat, rambut dan kuku Raden Munding Wangi dipotong dan dikuburkan di lokasi tersebut.

Dalam cerita rakyat setempat disebutkan bahwa saat prosesi pembaiatan di Gunung Kraton, seluruh gunung di sekitarnya tunduk dan memberi hormat, kecuali satu gunung yang menolak karena dipercaya dihuni oleh makhluk halus yang tidak seiman. Gunung ini kemudian diberi nama Gunung Bengkeng, dari kata mbengkeng yang berarti menolak atau keras kepala dalam bahasa Jawa. Hingga kini, Ardi Lawet, Gunung Kraton, dan Gunung Bengkeng terletak di wilayah Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, tidak jauh dari kawasan Perdikan Cahyana.

Di kawasan Ardi Lawet juga terdapat Sendang Toya Suci, yang menurut kepercayaan masyarakat berasal dari air zam-zam dari Mekkah. Dikisahkan bahwa saat membawa air tersebut dalam wadah, airnya tumpah dan kemudian membentuk sumber air alami atas izin Allah SWT, sehingga tempat itu dinamakan Sendang Toya Suci. Setelah memeluk Islam dan menunaikan ibadah haji, Raden Munding Wangi mendapat gelar Haji Purwa atau Haji Purba, yang berarti orang Jawa pertama yang menunaikan ibadah haji. Nama inilah yang kemudian lebih dikenal luas sebagai Syekh Jambu Karang.

Gunung Slamet tahun 1920 (Dok: KITLV)

Syekh Atas Angin juga dikaitkan dengan perubahan nama Gunung Ghora menjadi Gunung Slamet. Menurut catatan sejarawan Purwadi dalam bukunya Folklore Jawa terbitan 2009, nama ini muncul setelah ia sembuh dari penyakit kulit gatal usai mandi di Pancuran Pitu yang mengandung air belerang, sehingga ia disebut selamat atau slamet. Di dekat lokasi tersebut, yang kini masuk kawasan wisata Baturaden, Banyumas, juga terdapat petilasan yang dipercaya sebagai tempat tinggal dan beribadah Syekh Atas Angin.

Petilasan Mbah Atas Angin di Kompleks Pancuran Pitu, Lokawisata Baturaden, Banyumas (Dok: Detik Travel)

Makdum Tores melanjutkan tradisi berkelana dan menyebarkan agama Islam hingga ke wilayah Tegal, sehingga ia dikenal dengan sebutan Syekh Makdum Tores. Ia dimakamkan di daerah Bogares, Tegal. Sementara itu, putra kedua Makhdum Jamil menjadi pemimpin generasi keempat yang memegang tampuk kepemimpinan di Cahyana. Ia bergelar Syekh Makdum Wali Prakasa, dan makamnya terletak di belakang Masjid Besar Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga.

Syekh Makdum Wali Prakasa inilah yang kemudian menerima piagam istimewa berupa Serat Kekancingan dari Sultan Demak pada tahun 1403 Saka atau bertepatan dengan 1481 Masehi. Sejak diterimanya piagam tersebut, wilayah Cahyana secara resmi ditetapkan dan diakui sebagai Tanah Perdikan, yaitu wilayah yang memiliki hak istimewa, bebas dari kewajiban membayar pajak, serta diberikan kebebasan penuh untuk mengembangkan ajaran agama dan pendidikan Islam di bawah naungan Kesultanan Demak.

Sumber: Buku Perdikan Cahyana - Pusat Penyebaran Agama Islam di Bumi Perwira
Halaman: 22-27 | Penulis: Agus Sukoco & Gunanto Eko Saputro

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama