Momentum syukuran ulang tahun ke-73 1 atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Nun, menjadi ruang penuh makna, refleksi kehidupan, serta penguatan spiritual bagi masyarakat yang hadir. Dalam suasana hangat dan sarat kebijaksanaan tersebut, Budayawan Banyumas Mbah Titut turut memberikan pengisian rohani dan renungan hidup yang mengundang perenungan mendalam.
![]() |
| acara santai dan seremonial potong tumpeng |
Melalui bahasa sederhana namun penuh makna, Mbah Titut menyampaikan bahwa kehidupan manusia sejatinya tidak pernah lepas dari ujian. Namun ujian bukanlah tanda bahwa Allah tidak menyayangi hambanya, justru menjadi bentuk kasih sayang dan jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Pesan spiritual tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua kenikmatan dunia merupakan ukuran kasih sayang Tuhan. Bahkan mereka yang tengah menghadapi cobaan bisa jadi sedang ditempa menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah SWT.
Puisi “Cinta Itu Indah” Karya Mbah Titut
Dalam kesempatan yang sama, Mbah Titut juga membacakan puisi reflektif berjudul “Cinta Itu Indah”, sebuah karya yang menggambarkan makna cinta bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga cinta kepada Tuhan, kehidupan, dan penerimaan terhadap takdir.
![]() |
| Bapak Agus .S menyerahkan Ke Mbah Titut,sekaligus tokoh Budaya Banyumas. |
Beliau juga mengingatkan tentang pentingnya rendah hati ketika diberi kelimpahan harta dan kedudukan. Menurutnya, kesombongan adalah sifat yang harus dijauhi manusia.
Petuah Tentang Tiga Jenis Manusia
Menambah kekayaan renungan dalam acara tersebut, Budayawan Purbalingga 2 turut membagikan pandangan filosofis mengenai tiga jenis manusia, yakni manusia cangkul, manusia pedang, dan manusia keris.
Filosofi tersebut menjadi bahan perenungan tentang karakter, cara hidup, serta bagaimana manusia memilih jalan pengabdian dalam kehidupannya. Pesan itu diharapkan dapat menjadi petuah, way of life, dan bahan introspeksi bersama.
Baca juga artikel terkait:Warta Purbalingga||jurnalis beem76;
![]() |
| Tidak terasa sampai Larut Malam. |
Semua rangkaian acara syukuran berlangsung dalam suasana penuh syukur dan kebersamaan, sekaligus menjadi doa bersama bagi Mbah Nun agar senantiasa diberikan umur panjang, kesehatan, dan kebermanfaatan ilmu bagi masyarakat, agama, bangsa, dan negara.



