-->
🇮🇩 Indonesia
🇺🇸 English (US)
🇹🇷 Türkçe (Turki)
🇸🇦 العربية (Arab)
🇲🇾 Melayu
🇮🇩 Jawa
🇮🇳 हिन्दी (India)
🇨🇳 中文 (Cina)

WARTA PURBALINGGA

Portal Berita Terkini Purbalingga dan Sekitarnya

Melestarikan Braen: Warisan Dakwah dan Budaya Masyarakat Cahyana di Purbalingga

8 Tahun Menggeluti,Braen yang hampir di tinggal
Masyarakat Modern.

Melestarikan Braen: Warisan Dakwah dan Budaya Masyarakat Cahyana di Purbalingga

Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada satu tradisi luhur yang terus dijaga oleh masyarakat di wilayah Cahyana, Kabupaten Purbalingga. Tradisi itu bernama Braen, sebuah seni perwiyosan yang memadukan dzikir, doa, pujian, dan nasihat melalui lantunan syair yang diiringi rebana.

Makna dan Asal-usul Kata Braen

Secara bahasa, "Braen" berasal dari kata Arab "burun" yang artinya bergetar. Dalam konteks tradisi ini, Braen dimaknai sebagai dzikir yang dilakukan dengan getaran hati untuk memohon pertolongan Allah SWT. Isinya bukan sekadar nyanyian, melainkan rangkaian doa dan nasihat kehidupan yang diajarkan secara turun-temurun.

Alat musik utama dalam Braen adalah rebana atau terbang. Bunyi rebana inilah yang menjadi pengiring utama saat para pelaku Braen melantunkan syair-syair pujian. Lebih dari sekadar hiburan, Braen adalah media dakwah yang menyentuh sisi spiritual masyarakat.

Sejarah: Lahir dari Perjuangan Eyang Machdum Husen

Menurut penuturan Bapak Tasrip, tokoh masyarakat Cahyana, sejarah Braen tidak bisa dilepaskan dari sosok Eyang Machdum Husen, Raja Cahyana pertama. Pada masa itu, wilayah Cahyana mendapat serangan dari Kerajaan Pajajaran. Jumlah prajurit Cahyana jauh lebih sedikit, sehingga peluang untuk menang sangat kecil.

Dalam kondisi terjepit itulah Eyang Machdum Husen menciptakan syair-syair doa. Saat syair itu dilantunkan bersamaan dengan pukulan rebana, muncul suara seperti dengungan tawon. Ajaibnya, dari arah hutan kemudian benar-benar muncul kawanan tawon yang menyerang pasukan Pajajaran hingga mereka mundur. Sejak saat itulah masyarakat percaya bahwa Braen adalah bentuk pertolongan Tuhan melalui doa dan ikhtiar.

Ciri khas pembuka Braen hingga kini masih menggunakan kata "Tulungna... tulung", yang merupakan seruan doa minta tolong kepada Allah. Kisah inilah yang membuat Braen memiliki kedudukan khusus di hati masyarakat Cahyana.

Isi dan Bentuk Pelaksanaan Braen

Braen memiliki sekitar 125 syair yang isinya sangat beragam. Mulai dari pujian kepada Tuhan, sholawat, kisah para nabi, hingga nasihat tentang kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal. Syair-syair itu ditulis tangan dalam kitab-kitab tua yang masih dijaga oleh para sesepuh.

PANI PENGAWAL DAN PENJAGA ADAT JANGAN SAMPAI PUNAH

Pelaksanaan Braen biasanya dilakukan secara berjamaah. Para ibu-ibu dengan pakaian serba putih duduk melingkar, memegang rebana, dan melantunkan syair bersama-sama. Suasananya khusyuk namun juga hangat, karena Braen juga menjadi ajang silaturahim antar warga.

Berdasarkan tradisi, Braen dilaksanakan minimal 4 kali dalam setahun, yaitu pada Tahun Baru Hijriah, Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha. Wilayah yang masih melestarikan Braen meliputi desa-desa yang termasuk dalam "Percikan Cahyana", seperti Rajawana, Tajuk, Pakiringan, Grandong, hingga ke wilayah Tegal.

Nilai-Nilai yang Terkandung

Dalam video, Ibu Sumirah, salah satu anggota Braen, menyampaikan bahwa ia sudah mengikuti kegiatan ini selama 8 tahun. Alasannya sederhana: khawatir tradisi ini akan hilang jika tidak ada yang meneruskan.

4 Nilai Penting dalam Braen:

  1. Nilai Keagamaan: Semua syair berbasis ajaran Islam. Braen menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.
  2. Nilai Sosial: Proses persiapan Braen dilakukan gotong royong. Sesajen berupa makanan dan bunga adalah simbol rasa syukur kepada Allah.
  3. Nilai Budaya: Braen menggunakan bahasa Jawa dan Arab, menjadi jembatan antara tradisi lokal dan ajaran agama.
  4. Nilai Silaturahim: Setelah Braenan, warga biasanya saling berkunjung dan bermaaf-maafan.

Tantangan dan Upaya Pelestarian

Seperti tradisi lisan lainnya, Braen menghadapi tantangan besar: regenerasi. Anak muda sekarang lebih tertarik dengan musik modern. Jika tidak ada upaya serius, bukan tidak mungkin 125 syair Braen akan hilang bersama para sesepuh.

KUA Karangmoncol 1 melalui video dokumenter ini berupaya mengangkat kembali Braen ke permukaan. Harapannya, generasi muda bisa melihat bahwa Braen bukan tradisi kuno yang ketinggalan zaman, melainkan kekayaan budaya yang relevan dan harus dijaga bersama.

Penutup

Baca juga artikel terkait:
  1. PANI SIAP GELAR FESTIVAL TERBANG JAWA Purbalingga.
  2. Usulan Dana Hibah
  3. KETUA PANI Ke masjid nusantara ,watu sanggar



Warta Purbalingga||jurnalis beem76;



Braen adalah bukti bahwa dakwah bisa dilakukan dengan cara yang lembut, indah, dan membumi. Ia lahir dari sejarah perjuangan, tumbuh dari doa, dan hidup karena kebersamaan masyarakat.

"Mari kita rawat kebudayaan yang berupa Braen, karena budaya ini berisi tentang agama dan diambil dari bahasa agama."

Semoga Braen terus menggema, dari Cahyana untuk Indonesia. 🇮🇩

Sumber: Dokumenter KUA Karangmoncol 1 | Ditulis ulang: 2026

Warta Purbalingga

Tidak ada kata sulit kalau mau mencoba,kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
🤖 Dola AI — Asisten Warta Purbalingga
👋 Assalamualaikum, Boos!

Selamat datang di Warta Purbalingga. Saya Dola AI, siap membantu menjawab pertanyaan, informasi berita, dan kebutuhan seputar Purbalingga.

Klik tombol di bawah untuk mulai ngobrol langsung dengan saya 👇

Dukung Warta Purbalingga

Bantu operasional media warga agar terus hadir menyajikan informasi secara gratis untuk kita semua.

DANA 085799256344
SeaBank 901866316459

Terima kasih atas dukungan ikhlas Anda. Jazakumullah khairan katsiran. 🤲

🤖 Dola AI — Asisten Warta Purbalingga
👋 Assalamualaikum, Boos!

Selamat datang di Warta Purbalingga. Saya Dola AI, siap membantu menjawab pertanyaan, informasi berita, dan kebutuhan seputar Purbalingga.

Klik tombol di bawah untuk mulai ngobrol langsung dengan saya 👇
🚀 Mulai Chat dengan Dola AI